Showing posts with label 2016. Show all posts
Showing posts with label 2016. Show all posts

Privasi Identitas di dalam Broadcasting Messages

         
     Kemarin (24 July 2017), di Group LINE yang berisi teman-teman kampus saya, salah seorang teman saya membroadcast berita tentang angkot yang meledak di daerah Pluit, Jakarta Utara, dan merenggut nyawa si sopir. Di dalam broadcast itu, tertulis kronologis seperti waktu kejadian, tempat, bagaimana kejadian sebelum hingga sesudah ledakan, dan juga video dan foto ledakan angkot tersebut. Bahkan, dalam broadcastnya, dipaparkan juga nama, alamat, dan nomor telepon saksi dari kejadian tersebut. Teman saya menjelaskan bahwa berita tersebut dia dapat dari broadcast grup daerah rumahnya (dia tidak menjelaskan apakah dia dapat dari WhatsApp, BlackBerry Messenger, LINE, atau media sosial lain).

contoh postingan broadcast yang . Di dalamnya dijelaskan tempat/ tanggal lahir (pink), agama (orange), pekeerjaan (biru), alama dan no. hp (hitam)

                Sejujurnya, saya tidak nyaman dengan broadcast teman saya tersebut. Bukan, bukan karena foto atau video yang berbau darah dan menyeramkan. Kalau hal itu sih saya tidak masalah. Bukan juga karena takut itu hoax atau bukan. Karena saya telah mencari kebenaran beritanya, dan untungnya berita tersebut benar, dan diposting oleh salah satu media yang legal (http://news.metrotvnews.com/peristiwa/GNl6mDPk-sopir-dan-angkot-terbakar-di-pluit). Hal yang membuat saya risih dari broadcast tersebut adalah dipaparkannya data diri saksi secara gamblang, tanpa adanya sensor sedikitpun. Bayangkan saja, sudah namanya disebar, tanggal lahir, pekerjaan, alamat, dan nomor teleponnya pun ikut disebar. Menurut saya, hal ini tidak usah dilakukan. Bahkan sebenarnya tidak boleh dilakukan. Ada beberapa alasan kenapa data diri saksi tidak boleh disebarkan sembarangan.

1.       Mengganggu Privasi Seseorang

Ini saya bermain dengan logika ya, jadi mohon maaf kalau terkesan common sense. Jadi begini, ketika ada seseorang yang disebutkan dalam suatu berita orang-orang akan penasaran dengan nama yang disebutkan di dalam berita tersebut. Entah mereka akan googling, atau mencari nama di media-media sosial. Nah, dengan adanya ‘kemudahan’ berupa alamat dan nomor telepon, bukan tidak mungkin orang lain akan menelepon atau mendatangi tempat tinggal dia secara tiba-tiba. Dia akan terganggu dengan telepon yang tiba-tiba muncul saat dia sedang sibuk, atau kedatangan tamu yang tidak diundang saat dia sedang menikmati waktu bersama keluarga. Masih mending kalau kedatangan atau telepon orang itu untuk menanyakan soal kasus kecelakaan itu, kalau seandainya cuma telepon iseng? Atau telepon terror? Atau lebih buruknya lagi, kalau rumahnya ternyata dijadikan sasaran untuk mencuri? Gimana?

2.       Melanggar UU

Dalam hal ini, Undang-Undang yang dilanggar adalah Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika republik Indonesia nomor 20 Tahun 2016 tentang perlindungan Data Pribadi Dalam Sistem Elektronik. Di dalam pasal 26, dikatakan bahwa setiap orang berhak atas kerahasiaan identitas pribadinya. Selain itu, Pasal 26 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juga menyebutkan bahwa:
1)    Penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan Orang yang bersangkutan.
2)    Setiap Orang yang dilanggar haknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan berdasarkan Undang-Undang ini
                Jadi, dari peraturan ini, dapat dipahami bahwa sebenarnya penyebaran identitas secara sembarangan seperti broadcast teman saya itu adalah suatu pelanggaran Undang-Undang ITE. Dimana orang yang identitasnya disebar berhak untuk melapor atau menuntut, terutama apabila penyebaran identitas tersebut merugikan dia.

3.       Melanggar HAM

                 Well, sebenarnya Hak atas Privasi tidak disebutkan secara langsung di dalam UUD 1945, tapi dalam Pasal 28G ayat (1) UUD RI 1945 sebagai berikut:
“Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan  hak asasi”.
Pasal 28 G ini berkaitan dengan Article 12 UDHR (Universal Declaration of Human Rights) Dalam terjemahan tersebut, kata “privacy” diterjemahkan sebagai “urusan pribadi/masalah pribadi” sebagaimana yang tertera dalam Pasal 28G UUD RI 1945 sebagai berikut:

Article 12 UDHR :

                 “No one shall be subjected to arbitrary interference with his privacy, family, home or correspondence, nor to attacks upon his honour and reputation. Everyone has the right to the protection of the law against such interference or attacks”.

Terjemahan dalam Putusan MK:

           “Tidak seorang pun boleh diganggu urusan pribadinya, keluarganya, rumah tangganya, atau hubungan surat-menyuratnya, dengan sewenang-wenang, juga tidak diperkenankan melakukan pelanggaran atas kehormatannya dan nama baiknya. Setiap orang berhak mendapat perlindungan hukum terhadap gangguan-gangguan atau pelanggaran seperti ini”.

          Nah, hal ini berkaitan dengan poin 1 tadi, adanya penyebaran identitas seseorang secara sembarangan melalui media sosial, akan mengganggu privasi seseorang. Ketika privasi seseorang terganggu, maka secara hukum, hak asasinya pun telah dilanggar. Dia berhak menuntut hak privasinya, jika dia memang merasa terganggu.

                Jadi, buat orang-orang yang suka menyebar broadcast berupa berita dan sebagainya. Saya mohon, baca dulu, dan jangan sampai identitas orang lain, terutama alamat dan nomor telepon, tersebar begitu saja. Terlepas dari apakah alamat dan nomor telepon itu palsu atau tidak, setidaknya kita sudah menjauhi orang dari pelanggaran privasi, meskipun kita tidak kenal orang itu (atau bahkan orang itu fiktif).

                Yuk, kita hormati privasi orang.

Jembatan Aborsi : Julukan baru Jembatan Penyeberangan di Stasiun Universitas, Depok

HAI!
                Dua bulan terakhir UI diberikan sebuah fasilitas baru. Ya, sekarang stasiun UI memiliki jembatan penyebrangan orang (JPO) antara stasiun dan Barel (belakang rel). Akhirnya setelah sekian lama mesti lewatin rel secara langsung dan mesti becek-becekan (kalo hujan), kami akhirnya bisa nyebrangin rel dengan tenang. YEAY!

Jembatan Penyeberangan Stasiun UI-Barel
                Iya, awalnya gua pikir juga kayak gitu.

“Wah, sekarang mau ke barel tinggal lewatin jembatan. Keren...”

“Wah, asik nih ga perlu lagi yang namanya kena lumpur-lumpur jijay”

“Wih bisa nyebrang santai, ga usah takut ketabrak kereta”

“Ah, sedap lah.”

                Itu pikiran gua pas awal-awal masuk semester 4, which is ya saat ini. Karena ya gua adalah salah satu orang yang bakal menggunakan jembatan itu terus sampai libur kuliah nanti. Gak perlu lagi cape-cape lagi menghindar dari becek, atau gak perlu lagi tuh yang namanya gelap-gelapan in case pulang di atas jam setengah 8 dari kampus. Gua yakin bahwa JPO ini bakal ngasih banyak manfaat.

Ternyata enggak juga.

           Pertama kali gua naik, ternyata anak tangganya tinggi banget. Kayak, dari satu anak tangga ke anak tangga lain aja tuh udah super ngos-ngosan. Baru sampai atas aja udah super capek. Belum turunnya. Pas gua mau turun, dari atas kelihatan kalau ujung anak tangganya tuh ga simetris, agak bergerigi dan miring. Entah kenapa pertama kali gua coba turun dari situ, kepala gua agak pusing. Padahal gua udah makan sebelumnya. Pemikiran gua yang tadinya JPO ini bermanfaat langsung berubah 180 derajat.
Pas naik jembatan Stasiun UI.
Yha maaf gambarnya blur
Pas turun tangga jembatan
Begitu sampai di atas, ada dua satpam berdiri di pojok, supaya tidak terjadi apa-apa katanya
Pemandangan dari atas jembatan. Sisi kiri kanannya dijeruji.
Dari sini kelihatan stasiun UI dan kegiatan-kegiatannya 
                Tadinya gua pikir gua doang yang berpikiran kayak gitu. Mungkin aja tenaga gua yang ga cukup, soalnya gua bukan orang yang suka berolahraga. Ternyata temen gua yang suka olahraga dan rajin fitness pun ngos-ngosan pas naik tangga ini. Begitu juga dengan temen-temen gua yang ngekos di sekitar barel. Banyak temen-temen gua yang akhirnya sengaja ga sering balik ke kostannya gara-gara jembatan itu. Misalnya, hari ini lu kelas dari jam 8-10.30 sama jam 14-16.30. Kan masih ada waktu 3,5 jam tuh. Biasanya temen gua bakal balik ke kostan, terus istirahat di kamarnya 2 jam, habis itu balik lagi ke kampus, kan lumayan yak. Nah, karena jembatan ini, akhirnya temen gua sengaja stay di kampus (ngerjain tugas, ngaso, dll) sampai jam set 5 itu. Katanya sih buat ngurangin frekuensi melewati jembatan itu. Temen gua yang lain yang ngekost di Tamel (Taman Melati, lokasinya di pinggir jalan Margonda) juga sama. Dia ga mau capek-capek keringatan sampe kampus gara-gara itu jembatan. Bahkan dia sampai memesan gr*bcar loh tiap mau ke kampus, which is menurut gua sangat membuang-buang uang. Di saat lu bisa ke kampus jalan kaki tanpa ongkos sepeserpun, lu malah rela bayar gr*bcar yang gua rasa akan memakan paling gak 25rb.

                “Ya iyalah, males gua daripada lewatin jembatan aborsi itu”

                Itu kata dia pas gua tanya kenapa dia mau melakukan ‘pemborosan’ macam itu.


                Ah iya, berkat dia juga, gua dan teman-teman lainnya punya julukan buat  JPO kesayangan gua itu.

                ‘Jembatan Aborsi’

                WHAT!?

                Iya, lu ga salah baca. Akhirnya sampe sekarang gua nyebut jembatan itu sebagai ‘jembatan aborsi’, karena ya capeknya itu. Gua bisa ngebayangin kalau ada ibu-ibu hamil naik jembatan itu, pas udah sampe atas, anaknya udah langsung balita saking ekstremnya.
            Tadinya itu nama cuma dipake sama gua dan anak-anak kriminologi lainnya. Ga tau kenapa, lama-lama anak-anak FISIP lain juga ikut-ikutan nyebut jembatan itu sebagai ‘jembatan aborsi’. Bahkan belakangan ini kita menyebut jembatan aborsi seolah-olah nama itu memang nama sebenarnya. Nih contoh pembicaraanya:

                “Pulang cil? Naik apa?”

                “Naik G*JEK bang”

                “Ooh, tunggu di halte FISIP ya?”

         “Engga. Gua suruh di kober, biar murah.”

                “Buset, lewatin jembatan aborsi dong?”

                “Iya :”)”

                Padahal yang ngobrol sama gua itu bukanlah anak kriminologi, tapi senior dari jurusan lain di FISIP. Tapi dia nyebut itu jembatan seolah-olah itu adalah hal yang umum.
                Selain bikin capek, konstruksinya juga agak horror sih. Tau ga sih, beberapa bulan yang lalu, pas itu jembatan baru dibentuk, jembatan tersebut ambruk? Padahal masih konstruksi loh. Kan serem banget, untuk ga ada korban jiwa. Tapi katanya sih ada salah satu pekerja yang ketimpa, cuma masih kabar burung. Ga tau deh dari burungnya siapa.
                Setelah jembatan itu jadi, gua ngeliat ada beberapa kayu penopang yang belom dilepas. Nah loh, kayu penopang di tangga kan biasanya dipakai ketika tangga tersebut masih berupa semen basah dan digunakan untuk menjaga agar bentuk anak tangga dapat terstruktur dengan baik sebelum dipakai. Kalau tangganya udah jadi dan udah kokoh, harusnya kayunya juga dilepas. Tapi masih ada beberapa plank kayu yang belum dilepas sama-sekali. Jangan-jangan kalau lepas, jembatannya bakal ambruk lagi. AAAAA HOROR SEKALI!! :”(
Plank Kayu yang masih menempel di salah satu sisi jembatan Stasiun UI
                Hmm, kayaknya jembatan aborsi ini masih bisa dibilang ‘bermanfaat’ karena hal-hal tadi. Yah, gua harap itu cuma pemikiran parno gua, dan kalaupun memang hal itu beneran, gua harap segera diperbaiki. Amin.

Selamat menyeberang jembatan aborsi para pejuang! ;)
Cibubur

20 Maret 2016




"Kembaliannya permen aja, ya"

     
       Bulan Desember lalu, gua dan ade gua habis pelayanan di gereja. Terus karena haus dan waktu itu panas banget, gua dan adek gua akhirnya pergi ke sebuah minimarket di deket gereja gua. Beli apa ya, es krim sama minuman kalo ga salah. Terus pas bayar, kembaliannya Rp.10,800, tapi bukannya kembaliin sesuai dengan jumlah yang tertera, malah ngasih satu lembar 10ribu, 1 keping 500, 1 keping 100 sisanya permen rasa buah, dan gua cuma ‘ehm.... ya... oke’ sambil keluar dari minimarket.

kembalian gua Rp.10,800, tapi malah dikasih 
permen buat gantiin Rp.200 nya

                Sambil makanin eskrim, ga tau kenapa tiba-tiba kepikiran soal beginian. Kejadian ini udah lama dan sering banget terjadi loh. Rasanya dari gua umur 3 tahun, peristiwa ‘kembalian permen’ itu udah sering terjadi (atau jangan-jangan udah ada dari sebelum gua lahir?) Peristiwa ini juga ga terjadi sama gua doang, tapi juga hampir semua orang di Indonesia. Sampe-sampe beberapa netizen bikin meme dan komik singkat tentang beginian.

sumber : 1cak.com/815666

                Menurut gua, ‘kembalian permen’ itu salah satu peristiwa unik yang ada di Indonesia. Gua belum pernah lihat kasus yang kayak beginian pas gua main ke Singapore, terus gua cari-cari juga belom ada berita luar negeri atau meme luar negeri yang nampilin masalah beginian, entah emang ga ada atau gua belum nemu, atau ada tapi sengaja disembunyiin biar ga malu-maluin negara mereka. Gua sendiri juga penasaran, apa sih sejarahnya sehingga bikin beberapa minimarket memakai prinsip ‘kalau kembaliannya 200an, pake aja permen’? Bukan cuma kembalian 200 atau seratus yang bakal ‘dapet’ permen, tapi juga yang kembaliannya memiliki penjumlahan 200 atau seratus. Contohnya gua, kemarin kembaliannya ada nominal 800, maka mereka bakal ngasih 500, dan sisanya permen 3 buah.  Mungkin karena mereka ga punya uang receh, terus akhirnya mereka kasih permen yang harganya sama sebagai pengganti uang. Anehnya, pas kita beli barang (misalnya harga baranya Rp.12.300) dan kita bayar dengan 3 buah permen (pengganti Rp.300), mereka ga mau. Kan ga adil jadinya. Kalo gini gimana Equality bisa dijunjung tinggi *jengjeng* *ngelantur*.

Sumber : http://www.pulsk.com/55439/Hahahaha----kembalian-pake-permen-bayar-juga-pake-permen.html

                BTW, hal ini sebenernya bisa kita hindari loh. Kita bisa nolak kalau-kalau seandainya kasirnya ngasih kembalian dengan permen. Karena pada dasarnya mereka memberikan permen itu tanpa ada penawaran, dengan kata lain, tergolong dalam pemaksaan. Kalo pemaksaan itu merugikan kita, ya kita punya hak buat menolaknya dong.  Kecuali kalo seandainya kalian biasa aja dan berpsrinsip ‘ah gapapa cuma 100 200an ini kok’. Terus, minimarket-minimarket yang masih kasih kembalian pake permen, gua rasa kalian perlu hati-hati nih. Soalnya ada peraturan dari Bank Indonesia bahwa bagi penjual yang masih memberikan kembalian tidak berupa uang, maka akan didenda hingga Rp.20 juta atau penjara kurang lebih 1 tahun, kecuali ada perubahan dari Bank Indonesia mengenai perubahan sistem pembayaran. Jadi buat temen-temen yang ga suka sama kembalian permen dari minimarket kesayangan, laporin aja ke BI, nanti mereka yang urus. Paling gak hal ini dilakukan agar penjual dan pembeli sama-sama ga dirugikan. Ya gak?

Shirley Tiurina
24 Januari 2016
20:42
Sumber :

Efektivitas Nostalgia dalam Lagu-Lagu Masa Kini

Beberapa tahun lalu, tepatnya di tahun 2017, sebuah lagu berjudul ‘Plastic Love’ diunggah di Youtube. ‘ Plastic Love ’ yang dinyanyikan o...