Gangnam District, Hunian Modern Baru di Pusat Bekasi

Siapa yang tidak tahu kota Bekasi? Kota yang terletak di Jawa Barat dan berdiri kurang lebih 19 tahun ini merupakan salah satu kota yang terkenal di Indonesia. Kota yang merupakan bagian dari Jabodetabek ini belakangan dikenal karena munculnya meme atau gambar-gambar terkait dengan kota Bekasi. Sebagian besar meme tersebut bercerita tentang betapa jauh dan panasnya kota Bekasi, sampai-sampai banyak orang yang membuat lelucon dengan kota Bekasi, seperti kalimat 'Kalau ke Bekasi, mesti naik roket dulu', 'Bekasi tidak ada di peta Indonesia', atau 'Kalau mau ke Bekasi naik mobil, waktunya lama banget. Gitu sampe di sana pasti kita udah tua., dan berbagai macam ledekan lainnya.

Duh, kayaknya sedih banget ya kondisi bekasi saat kita dengar berbagai macam ejekan seperti itu, padahal kota Bekasi sebenarnya super keren loh. Teman-teman sebenarnya tahu ga sih? Kota Bekasi saat ini merupakan salah satu kota yang memiliki banyak Mall yang super kece selain di Jakarta? Katakan saja Mega Bekasi Hypermall, Revo Town, Mall Metropolitan, Bekasi Cyber Park, Grand Metropolitan, Grand Galaxy Park Mall, dan masih banyak lagi yang mungkin tidak saya tahu. Selain Mall yang cukup banyak, kota Bekasi juga memiliki perumahan dan apartemen modern yang mulai merajai tanah di kota Bekasi. Nah, baru-baru ini, telah muncul salah satu hunian modern baru berbentuk kumpulan apartemen yang keren dan menarik nih di Bekasi. Namanya adalah Apartemen Gangnam District.


Ya, teman-teman ga salah baca kok. Namanya memang Gangnam District. Mungkin bagi sebagian teman-teman, terutama yang anak-anak K-popers, pasti mengetahui bahwa Gangnam merupakan salah satu kota besar yang terkenal dan berkelas di Korea Selatan. Tapi percayalah, Gangnam District yang aku jelaskan ini terletak di kota Bekasi.

Jadi, Gangnam District merupakan salah satu Apartemen terbaru di Bekasi, apartemen dengan slogan 'Bekasi Dream Landmark' ini memiliki konsep smart living atau menggunakan konsep gaya hidup yang modern dan bersahabat dengan teknologi. Salah satunya adalah disediakannya monitor di setiap apartemen yang berfungsi untuk mengecek tamu yang ada di depan pintu, jadi teman-teman ga perlu lagi tuh yang namanya mengintip di lobang pintu seperti di film-film lawas hehe. Selain itu, Apartemen Gangnam District juga memiliki fasilitas lain yang ga kalah keren. Mulai dari tempat fitness, kolam renang, tempat untuk pesta Barbeque, Waterpark, kolam Jacuzzi, restoran, taman umum, ampitheatre (teater outdoor), dan rencananya akan dibangun mall yang bersatu dengan apartemen, yaitu Pollux Mall. Berdasarkan website resminya nih, Mall ini rencananya akan dibangun berbeda dengan mall sebelumnya, karena mall ini katanya terinspirasi dari mall-mall yang berada di kota Gangnam, Korea Selatan, keren banget!


Wah, kayaknya istilah Bekasi sebagai 'kota dari planet lain' bakal hilang nih karena Apartemen Gangnam District ini hehehe. Rencananya, Apartemen ini akan dibangun sebanyak 18 tower dengan dua unit kamar yang bisa kita pilih, yaitu studio (1 bedroom) dan apartemen dengan 2 bedroom. Harganya juga berkisar mulai dari Rp.286 juta loh. Menarik kan? Apalagi buat teman-teman yang lagi cari tempat tinggal baru atau mau beli untuk investasi. Ingin tahu tentang Gangnam District lebih lanjut? Yuk cari tahu info lebih lanjut melalui contact person di bawah ini :

Telpon : (021) 80671207
Whatsapp : 085219751976
Email : info@gangnamdistrict.com

Atau bisa juga teman-teman lihat di http://gangnamdistrict.com/

Ya, sekian postingan saya pada hari ini. Sampai jumpa di postingan berikutnya ya :)

How Amazing Japan : Kekaguman Budaya Hanami


HIS Amazing Sakura - Blogger Competition

Selamat pagi teman-teman :) cuaca lagi hujan, dingin, bikin malas keluar rumah, dan tiba-tiba kepikiran buat membuat postingan soal Jepang nih hehehe. Tahu ga sih? Aku tuh dari dulu seneng dan kagum banget sama Jepang. Negeri matahari ini merupakan salah satu negara yang ingin aku datangin sejak kecil, dan mungkin teman-teman juga ada yang ingin banget jalan-jalan ke sana.

Hm, bicara soal Jepang, yang kita bayangkan adalah Gunung Fuji yang menjulang tinggi, atau Sushi dan ramen yang rasanya menggugah selera, atau budaya pop Jepang yang berupa idol girl dan anime, transportasi super cepat yang dinamakan shinkanshen, dan masih banyak lagi yang menjadi ciri khas dari Jepang.  Selain hal-hal di atas, Jepang juga memiliki festival budaya yang sangat menarik untuk disaksikan oleh para wisatawan. Nah, karena sekarang di Jepang sedang musim semi, aku mau membahas salah satu festival yang paling kusuka di Jepang saat musim semi, yaitu Hanami.

  Apa sih Hanami itu? Yah, secara umum, Hanami itu salah satu festival yang muncul setiap musim semi, tepatnya saat bunga sakura sedang berwarna pink dan mulai bermekaran. Pada waktu tersebut, biasanya penduduk atau para wisatawan yang sedang liburan di Jepang, akan berkumpul dan menonton keindahan bunga Sakura yang sedang mekar-mekarnya, dan kadang-kadang kelopaknya akan terbang karena tertiup angin, yang tentu saja akan menambah keindahan festival hanami itu sendiri. Tapi bukan hanya berdiri menonton lalu pulang loh. Mereka juga makan bersama sambil menggelar tikar yang sudah dibawa dari rumah, dan juga meminum matcha atau teh hijau khas Jepang. Yah, bisa dibilang kegiatannya itu adalah piknik sambil melihat keindahan bunga sakura.

Festival hanami sudah ada sejak zaman dahulu. Ada beberapa cerita terkait dengan munculnya festival Hanami. Konon, festival ini awalnya merupakan kegiatan yang hanya dilakukan oleh para bangsawan. Pada musim semi, mereka biasanya berkumpul dan makan bersama di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran. Namun, budaya ini pun dilakukan juga oleh kaum samurai. Seiring berjalannya waktu, hanami pun akhirnya dilakukan oleh masyarakat biasa, sehingga akhirnya menjadi suatu budaya yang dilakukan oleh semua orang di Jepang. Ada pula yang berkata bahwa festival hanami merupakan salah satu resapan dari ajaran agama Buddha. Dalam ajaran tersebut disebutkan bahwa salah satu cara yang digunakan para petani untuk memprediksi hasil panen dan menetapkan waktu menebar benih adalah dengan cara  melihat bagaimana bunga sakura mekar. Ada pula yang berkata bahwa festival hanami merupakan salah satu budaya yang diresap dari negeri Bambu Alias China. Entah mana yang benar, yang pasti saat ini festival tersebut sudah menjadi salah satu festival favoritku di Jepang.

Hanami memang salah satu penarik perhatianku, dan membuatku sangat ingin untuk ikut Wisata ke Jepang nih. Tapi, ada beberapa kendala yang membuat banyak orang (termasuk) jadi agak takut ke sana. Mulai dari sulitnya mendapat pesawat dan penginapan yang harganya pas di kantong, sampai biaya makan di sana yang bikin menangis, sehingga banyak yang mundur duluan dan beralih untuk travel ke tempat lain yang menurutnya lebih murah. Tapi aku rasa teman-teman sudah ga usah khawatir soal begituan. Soalnya baru-baru ini aku nemu HAnavi.

Apa sih HAnavi itu? Jadi HAnavi itu adalah paket tour Jepang yang merupakan bagian dari His Travel, di mana mereka menawarkan paket ke Jepang yang murah, hemat, dan memiliki pilihan detinasi wisata Jepang yang banyaak banget. Bayangkan saja, misalnya kamu mau traveling dari Tokyo ke Okinawa, umumnya kalau mau ke sana tuh mesti naik kereta selama 3 jam. Tapi kalau pak HAnavi, cuma 1 jam! Efisien banget kan? Harganya juga ga mahal-mahal banget, mulai dari 2.6 juta permalam untuk ke beberapa tempat wisata. Cocok lah ya buat yang mau backpackeran, apalagi yang masih mahasiswa kayak aku hehehe. Duh, jadi pengen deh ambil Paket Tour Jepang menikmati keindahan Jepang pake HAnavi. Teman-teman ikut jugs yuk, kita wisata ke Jepang dengan HAnavi, dan nikmati How Amazing Japan bersama HAnavi. Jangan lupa cek link HAnavi atau link His Travel di www.his-travel.co.id untuk info lebih lanjut mengenai Japan Air Pass ;) #HISAmazingSakura

Jembatan Aborsi : Julukan baru Jembatan Penyeberangan di Stasiun Universitas, Depok

HAI!
                Dua bulan terakhir UI diberikan sebuah fasilitas baru. Ya, sekarang stasiun UI memiliki jembatan penyebrangan orang (JPO) antara stasiun dan Barel (belakang rel). Akhirnya setelah sekian lama mesti lewatin rel secara langsung dan mesti becek-becekan (kalo hujan), kami akhirnya bisa nyebrangin rel dengan tenang. YEAY!

Jembatan Penyeberangan Stasiun UI-Barel
                Iya, awalnya gua pikir juga kayak gitu.

“Wah, sekarang mau ke barel tinggal lewatin jembatan. Keren...”

“Wah, asik nih ga perlu lagi yang namanya kena lumpur-lumpur jijay”

“Wih bisa nyebrang santai, ga usah takut ketabrak kereta”

“Ah, sedap lah.”

                Itu pikiran gua pas awal-awal masuk semester 4, which is ya saat ini. Karena ya gua adalah salah satu orang yang bakal menggunakan jembatan itu terus sampai libur kuliah nanti. Gak perlu lagi cape-cape lagi menghindar dari becek, atau gak perlu lagi tuh yang namanya gelap-gelapan in case pulang di atas jam setengah 8 dari kampus. Gua yakin bahwa JPO ini bakal ngasih banyak manfaat.

Ternyata enggak juga.

           Pertama kali gua naik, ternyata anak tangganya tinggi banget. Kayak, dari satu anak tangga ke anak tangga lain aja tuh udah super ngos-ngosan. Baru sampai atas aja udah super capek. Belum turunnya. Pas gua mau turun, dari atas kelihatan kalau ujung anak tangganya tuh ga simetris, agak bergerigi dan miring. Entah kenapa pertama kali gua coba turun dari situ, kepala gua agak pusing. Padahal gua udah makan sebelumnya. Pemikiran gua yang tadinya JPO ini bermanfaat langsung berubah 180 derajat.
Pas naik jembatan Stasiun UI.
Yha maaf gambarnya blur
Pas turun tangga jembatan
Begitu sampai di atas, ada dua satpam berdiri di pojok, supaya tidak terjadi apa-apa katanya
Pemandangan dari atas jembatan. Sisi kiri kanannya dijeruji.
Dari sini kelihatan stasiun UI dan kegiatan-kegiatannya 
                Tadinya gua pikir gua doang yang berpikiran kayak gitu. Mungkin aja tenaga gua yang ga cukup, soalnya gua bukan orang yang suka berolahraga. Ternyata temen gua yang suka olahraga dan rajin fitness pun ngos-ngosan pas naik tangga ini. Begitu juga dengan temen-temen gua yang ngekos di sekitar barel. Banyak temen-temen gua yang akhirnya sengaja ga sering balik ke kostannya gara-gara jembatan itu. Misalnya, hari ini lu kelas dari jam 8-10.30 sama jam 14-16.30. Kan masih ada waktu 3,5 jam tuh. Biasanya temen gua bakal balik ke kostan, terus istirahat di kamarnya 2 jam, habis itu balik lagi ke kampus, kan lumayan yak. Nah, karena jembatan ini, akhirnya temen gua sengaja stay di kampus (ngerjain tugas, ngaso, dll) sampai jam set 5 itu. Katanya sih buat ngurangin frekuensi melewati jembatan itu. Temen gua yang lain yang ngekost di Tamel (Taman Melati, lokasinya di pinggir jalan Margonda) juga sama. Dia ga mau capek-capek keringatan sampe kampus gara-gara itu jembatan. Bahkan dia sampai memesan gr*bcar loh tiap mau ke kampus, which is menurut gua sangat membuang-buang uang. Di saat lu bisa ke kampus jalan kaki tanpa ongkos sepeserpun, lu malah rela bayar gr*bcar yang gua rasa akan memakan paling gak 25rb.

                “Ya iyalah, males gua daripada lewatin jembatan aborsi itu”

                Itu kata dia pas gua tanya kenapa dia mau melakukan ‘pemborosan’ macam itu.


                Ah iya, berkat dia juga, gua dan teman-teman lainnya punya julukan buat  JPO kesayangan gua itu.

                ‘Jembatan Aborsi’

                WHAT!?

                Iya, lu ga salah baca. Akhirnya sampe sekarang gua nyebut jembatan itu sebagai ‘jembatan aborsi’, karena ya capeknya itu. Gua bisa ngebayangin kalau ada ibu-ibu hamil naik jembatan itu, pas udah sampe atas, anaknya udah langsung balita saking ekstremnya.
            Tadinya itu nama cuma dipake sama gua dan anak-anak kriminologi lainnya. Ga tau kenapa, lama-lama anak-anak FISIP lain juga ikut-ikutan nyebut jembatan itu sebagai ‘jembatan aborsi’. Bahkan belakangan ini kita menyebut jembatan aborsi seolah-olah nama itu memang nama sebenarnya. Nih contoh pembicaraanya:

                “Pulang cil? Naik apa?”

                “Naik G*JEK bang”

                “Ooh, tunggu di halte FISIP ya?”

         “Engga. Gua suruh di kober, biar murah.”

                “Buset, lewatin jembatan aborsi dong?”

                “Iya :”)”

                Padahal yang ngobrol sama gua itu bukanlah anak kriminologi, tapi senior dari jurusan lain di FISIP. Tapi dia nyebut itu jembatan seolah-olah itu adalah hal yang umum.
                Selain bikin capek, konstruksinya juga agak horror sih. Tau ga sih, beberapa bulan yang lalu, pas itu jembatan baru dibentuk, jembatan tersebut ambruk? Padahal masih konstruksi loh. Kan serem banget, untuk ga ada korban jiwa. Tapi katanya sih ada salah satu pekerja yang ketimpa, cuma masih kabar burung. Ga tau deh dari burungnya siapa.
                Setelah jembatan itu jadi, gua ngeliat ada beberapa kayu penopang yang belom dilepas. Nah loh, kayu penopang di tangga kan biasanya dipakai ketika tangga tersebut masih berupa semen basah dan digunakan untuk menjaga agar bentuk anak tangga dapat terstruktur dengan baik sebelum dipakai. Kalau tangganya udah jadi dan udah kokoh, harusnya kayunya juga dilepas. Tapi masih ada beberapa plank kayu yang belum dilepas sama-sekali. Jangan-jangan kalau lepas, jembatannya bakal ambruk lagi. AAAAA HOROR SEKALI!! :”(
Plank Kayu yang masih menempel di salah satu sisi jembatan Stasiun UI
                Hmm, kayaknya jembatan aborsi ini masih bisa dibilang ‘bermanfaat’ karena hal-hal tadi. Yah, gua harap itu cuma pemikiran parno gua, dan kalaupun memang hal itu beneran, gua harap segera diperbaiki. Amin.

Selamat menyeberang jembatan aborsi para pejuang! ;)
Cibubur

20 Maret 2016




"Kembaliannya permen aja, ya"

     
       Bulan Desember lalu, gua dan ade gua habis pelayanan di gereja. Terus karena haus dan waktu itu panas banget, gua dan adek gua akhirnya pergi ke sebuah minimarket di deket gereja gua. Beli apa ya, es krim sama minuman kalo ga salah. Terus pas bayar, kembaliannya Rp.10,800, tapi bukannya kembaliin sesuai dengan jumlah yang tertera, malah ngasih satu lembar 10ribu, 1 keping 500, 1 keping 100 sisanya permen rasa buah, dan gua cuma ‘ehm.... ya... oke’ sambil keluar dari minimarket.

kembalian gua Rp.10,800, tapi malah dikasih 
permen buat gantiin Rp.200 nya

                Sambil makanin eskrim, ga tau kenapa tiba-tiba kepikiran soal beginian. Kejadian ini udah lama dan sering banget terjadi loh. Rasanya dari gua umur 3 tahun, peristiwa ‘kembalian permen’ itu udah sering terjadi (atau jangan-jangan udah ada dari sebelum gua lahir?) Peristiwa ini juga ga terjadi sama gua doang, tapi juga hampir semua orang di Indonesia. Sampe-sampe beberapa netizen bikin meme dan komik singkat tentang beginian.

sumber : 1cak.com/815666

                Menurut gua, ‘kembalian permen’ itu salah satu peristiwa unik yang ada di Indonesia. Gua belum pernah lihat kasus yang kayak beginian pas gua main ke Singapore, terus gua cari-cari juga belom ada berita luar negeri atau meme luar negeri yang nampilin masalah beginian, entah emang ga ada atau gua belum nemu, atau ada tapi sengaja disembunyiin biar ga malu-maluin negara mereka. Gua sendiri juga penasaran, apa sih sejarahnya sehingga bikin beberapa minimarket memakai prinsip ‘kalau kembaliannya 200an, pake aja permen’? Bukan cuma kembalian 200 atau seratus yang bakal ‘dapet’ permen, tapi juga yang kembaliannya memiliki penjumlahan 200 atau seratus. Contohnya gua, kemarin kembaliannya ada nominal 800, maka mereka bakal ngasih 500, dan sisanya permen 3 buah.  Mungkin karena mereka ga punya uang receh, terus akhirnya mereka kasih permen yang harganya sama sebagai pengganti uang. Anehnya, pas kita beli barang (misalnya harga baranya Rp.12.300) dan kita bayar dengan 3 buah permen (pengganti Rp.300), mereka ga mau. Kan ga adil jadinya. Kalo gini gimana Equality bisa dijunjung tinggi *jengjeng* *ngelantur*.

Sumber : http://www.pulsk.com/55439/Hahahaha----kembalian-pake-permen-bayar-juga-pake-permen.html

                BTW, hal ini sebenernya bisa kita hindari loh. Kita bisa nolak kalau-kalau seandainya kasirnya ngasih kembalian dengan permen. Karena pada dasarnya mereka memberikan permen itu tanpa ada penawaran, dengan kata lain, tergolong dalam pemaksaan. Kalo pemaksaan itu merugikan kita, ya kita punya hak buat menolaknya dong.  Kecuali kalo seandainya kalian biasa aja dan berpsrinsip ‘ah gapapa cuma 100 200an ini kok’. Terus, minimarket-minimarket yang masih kasih kembalian pake permen, gua rasa kalian perlu hati-hati nih. Soalnya ada peraturan dari Bank Indonesia bahwa bagi penjual yang masih memberikan kembalian tidak berupa uang, maka akan didenda hingga Rp.20 juta atau penjara kurang lebih 1 tahun, kecuali ada perubahan dari Bank Indonesia mengenai perubahan sistem pembayaran. Jadi buat temen-temen yang ga suka sama kembalian permen dari minimarket kesayangan, laporin aja ke BI, nanti mereka yang urus. Paling gak hal ini dilakukan agar penjual dan pembeli sama-sama ga dirugikan. Ya gak?

Shirley Tiurina
24 Januari 2016
20:42
Sumber :

Pluralisme Agama di Indonesia


            Pluralisme adalah sebuah ideologi di mana kita saling toleransi antar suku, agama, dan ras. Kata ‘pluralisme’ merupakan salah satu istilah yang sedang banyak diperbincangkan di era globalisasi, terutama di negara berkembang yang memiliki budaya yang beraneka ragam seperti di Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan Indonesia itu sendiri merupakan negara yang menganut pluralisme berdasarkan adanya berbagai macam agama, suku, ras yang dimiliki masing-masing setiap Warga Negara Indonesia.
            Dari segi agama, Hick mendefinisikan pluralisme sebagai ‘nama yang diberikan kepada gagasan bahwa dunia agama yang luas membedakan respon manusia-manusia terhadap realitas penghabisan yang sangat bersifat realitas. Bahwa realitas itu sendiri melampaui cakupan dari sistem konseptual manusia[1]’. Di dalam hal itu terdapat sebuah penjelasan bahwa pluralisme dalam hal agama adalah sebuah ideologi di mana seseorang diminta untuk memiliki rasa saling toleransi dan saling memahami dalam hal berkeyakinan dengan maksud untuk menciptakan kehidupan yang harmonis antar masyarakat.
            Agama juga dibahas dalam Undang-Undang HAM. Dalam UUD 1945, hak kebebasan beragama terdapat dalam Pasal 28(E) ayat (1) yang berbunyi :
            “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.” [2]
            Selain itu, hak kebebasan beragama juga terdapat dalam instrumen HAM Internasional seperti Declaration of Human Rights tahun 1948 pasal 18 yang berbunyi:

            “Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani dan agama; hak ini termasuk kebebasan untuk mengubah agama atau kepercayaan, dan kebebasan, baik sendiri atau dalam komunitas dengan orang lain dan di depan umum atau swasta, untuk mewujudkan agama atau keyakinannya dalam pengajaran, praktek, ibadah dan ketaatan.”[3]
            Masalah yang sering timbul dari negara multikultural adalah adanya diskriminasi terhadap minoritas. Diskriminasi merupakan tindakan dimana kaum mayoritas memarginalkan kaum minoritas dan menghambat akses minoritas terhadap beberapa hal. Diskriminasi dapat terjadi di dalam berbagai bidang seperti diskriminasi umur, gender, suku, ras, dan agama. Diskriminasi bersifat buruk karena tidak memberikan kesempatan yang sama terhadap semua orang[4], dan menciptakan ketidakadilan di masayarakat.
            Di dalam undang-undang itu sendiri ada instrumen mengenai Hak bebas dari Diskriminasi. Di Indonesia terdapat UU No.40  tahun 2008 pasal 6 yang berbunyi :
            “Perlindungan terhadap warga negara dari segala bentuk tindakan diskriminasi ras dan etnis diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat, serta melibatkan partisipasi seluruh warga negara yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”[5]
            Di internasional juga terdapat Undang-Undang yang membicarakan hak bebas dari diskriminasi, hal ini terdapat di dalam Human Rights Act 1988  pasal 14 mengenai Prohibition of Discrimination yang berbunyi :
            “Kenikmatan hak dan kebebasan yang diatur dalam Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang Hak Asasi Manusia harus dijamin tanpa diskriminasi atas dasar apapun seperti jenis kelamin, ras, warna kulit, bahasa, agama, politik atau pendapat lain, nasional atau asal sosial , hubungan dengan minoritas nasional, kekayaan, kelahiran atau status lainnya.”[6]
            Indonesia sendiri masih belum lepas dari jeratan diskriminasi, terutama dalam masalah agama. Fakta bahwa Islam menjadi agama dengan umat terbanyak di Indonesia membuat masyarakat beragama Islam seringkali mendapat peran untuk menjalankan tugas-tugas besar dalam perkembangan multikultural dan demokrasi di Indonesia[7]. Sayangnya, masih banyak kaum islam yang masih intoleran terhadap sesamanya. Berbagai macam program studi pasca sarjana di tahun 2010 menunjukan bahwa tingkat intoleransi pada masyarakat kita meningkat. Hampir semua lembaga survey yang memiliki fokus pada bidang agama juga menunjukkan indikasi bahwa masyakarat khususnya kalangan muda lebih banyak mendukung bentuk-bentuk kekerasan dengan dalih agama[8]. Salah satu kasus yang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih intoleran dengan perbedaan agama adalah ketika Susan Jasmine Zulkifli menjadi Lurah Lentang Agung pada Juli 2013 lalu. Susan yang beragama kristen ditolak oleh warga Lenteng Agung dengan alasan dia perempuan dan dia non-muslim[9]. Susan dianggap tidak kompeten karena tidak mewakili Lenteng Agung yang mayoritas adalah muslim[10], padahal kinerja Lurah Susan selama menjabat cukup baik dan tidak merugikan masyarakat. Warga Lenteng Agung mengaku bahwa mereka menolak kehadiran Lurah Susan karena adanya ‘pihak luar’ yang memprovokasi mereka untuk menurunkan Susan dari jabatannya[11]. Hal ini menunjukkan bahwa di Indonesia masih ada diskriminasi yang terjadi, terutama ketika menyangkut masalah agama.
            Dengan demikian, meskipun Indonesia dan hukum Internasional telah mempublikasikan hak kebebasan dari diskriminasi sejak lama, namun banyaknya ajaran yang salah dan masyarakat yang kurang kritis mengakibatkan timbulnya tindakan diskriminasi kaum mayoritas terhadap kaum minoritas. Perlu adanya sosialisasi yang tepat dari keluarga, pemerintah, dan agen pendidikan supaya masyarakat dapat hidup bertoleransi dengan baik, sehingga pluralisme dalam kebhineka-tunggal-ika-an Indonesia dapat tercapai seperti yang diharapkan.



Sumber :
Arifin,Achmad Zainal,2014, Membela yang Lemah: Menggali Ide Pluralisme         Gusdur,Rangkuman Diskusi AIFIS,pp.5
Azra, Azyumardi ,2004, Managing pluralism in southeast Asia: Indonesian             experience,      Peace Research,pp.2
Hick(1999) dalam Anderson,Owen,2008,’The Presupposition of Religious Pluralism and The       Need for Natural Theology’,Springer Science,pp.202
Seggal,Shlomi,2012,What’s so Bad about Discrimination?,Cambridge University   Press,pp.82
Depkeu,2008.‘Undang-Undang Nomor 40 tahun 2008’,
Equality and Human Rights Commision,2009,’Protection from Discriminatnion’,             http://www.equalityhumanrights.com/your-rights/human-rights/what-are-    human-            rights%3F/the-human-rights-act/protection-from-discrimination,
Hukumonline,2010,’Pertanyaan : HAM dan Kebebasan Beragama di Indonesia’,             http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl6556/ham-dan-kebebasan-      beragama-di-   indonesia,
KOMPAS,2013,’ FPI: Menolak Lurah Susan Harga Mati’,
            http://megapolitan.kompas.com/read/2013/10/26/1937287/.FPI.Menolak.Lurah.Susan.Ha  rga.Mati?search=lurah+susan
TEMPO,2013,’ Lurah Susan Didemo Warga Lenteng Agung Lagi’,
            http://metro.tempo.co/read/news/2013/09/25/083516408/lurah-susan-didemo-warga-          lenteng-agung-lagi, diakses pada 1 Des 2015 jam 07.35
TEMPO,2013,’ Pengakuan Warga Lenteng Agung Soal Lurah Susan’,
             http://metro.tempo.co/read/news/2013/08/24/083507077/pengakuan-warga-lenteng-          agung-soal-lurah-susan, diakses pada 1 Des 2015 jam 07.40
UNESCO, ‘Declaration of Human Rights’, http://www.unesco.org/most/rr4udhr.htm







[1] Hick(1999) dalam Anderson,Owen,2008,’The Presupposition of Religious Pluralism and The Need for Natural Theology’,Springer Science,pp.202
[2] Hukumonline,2010,’Pertanyaan : HAM dan Kebebasan Beragama di Indonesia’, http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl6556/ham-dan-kebebasan-beragama-di-indonesia, diakses pada 1 Desember 2015 jam 03.00
[3] UNESCO, ‘Declaration of Human Rights’, http://www.unesco.org/most/rr4udhr.htm, diakses pada 1 Desember 2015 jam 06.07
[4] Seggal,Shlomi,2012,What’s so Bad about Discrimination?,Cambridge University Press,pp.82
[5] Depkeu,2008. ‘Undang-Undang Nomor 40 tahun 2008’, http://www.sjdih.depkeu.go.id/fulltext/2008/40tahun2008uu.htm, diakses pada 1 Desember 2015 jam 06.34
[6] Equality and Human RIghts Commision,2009,’Protection from Discriminatnion’, http://www.equalityhumanrights.com/your-rights/human-rights/what-are-human-rights%3F/the-human-rights-act/protection-from-discrimination, diakses pada 1 Desember 2015 jam 06.40
[7] Azra, Azyumardi ,2004, Managing pluralism in southeast Asia: Indonesian experience, Peace Research,pp.2
[8] Arifin,Achmad Zainal,2014, Membela yang Lemah: Menggali Ide Pluralisme Gusdur,Rangkuman Diskusi AIFIS,pp.5
[9] KOMPAS,2013,’ FPI: Menolak Lurah Susan Harga Mati’, http://megapolitan.kompas.com/read/2013/10/26/1937287/.FPI.Menolak.Lurah.Susan.Harga.Mati?search=lurah+susan , diakses pada 1 Des 2015 jam 07.15
[10] TEMPO,2013,’ Lurah Susan Didemo Warga Lenteng Agung Lagi’, http://metro.tempo.co/read/news/2013/09/25/083516408/lurah-susan-didemo-warga-lenteng-agung-lagi, diakses pada 1 Des 2015 jam 07.35
[11] TEMPO,2013,’ Pengakuan Warga Lenteng Agung Soal Lurah Susan’, http://metro.tempo.co/read/news/2013/08/24/083507077/pengakuan-warga-lenteng-agung-soal-lurah-susan, diakses pada 1 Des 2015 jam 07.40

Angkot oh Angkot

                Halo! Selasa kemarin habis ke kampus dianter mama, terus nemu angkot yang super duper nyebelin bikin pengen gua lindes tapi ga mungkin. Nah, gara-gara itu tiba-tiba kepikiran buat ngebahas kendaraan umum yang udah kayak cendol di Indonesia : ANGKOT
                Well, udah pada tahu lah ya angkot itu apa. Angkot itu kendaraan umum di Indonesia (terutama jabodetabek) yang berbentuk mobil atau mini bus. Biasa beroperasi di jalan raya dari pagi sampai malam. Angkot di setiap tempat memilki warna yang berbeda, dan jurusan yang berbeda-beda pula. Tujuannya ya agar masyarakat yang tidak mempunyai kendaraan bisa tetap ke tempat tujuannya dengan cepat dan aman.
                Tujuannya udah mulai banget tuh. Selain menolong masyarakat yang ga punya kendaaraan, angkot SEHARUSNYA juga bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, apalagi yang jumlahnya udah membludak kayak cendol.  TAPIIIIIIIIII kenyataannya tidak demikian. Justru sekarang kendaraan pribadi makin banyak. Satu orang satu motor, atau lebih parahnya lagi, satu orang satu mobil. Oh the irony...
                Kenapa sih orang – orang sekarang lebih milih naik kendaraan pribadi ketimbang angkot? Nah, berdasarkan observasi dan pertanyaan yang gua lontarkan ke teman-teman gua yang kemana-mana pake kendaraan pribadi, akhirnya ditemukan beberapa alasan yang menurut gua mewakili semuanya :
  1.  Tukang Ngetem

                That’s the 1st (and) most reason that my friends told when I asked them “kenapa ga naik angkot aja?”. Di Jakarta (terutama Depok, tempat tinggal gua), angkot selalu di pinggir jalan. Buat yang gatau ngetem itu apa, ngetem adalah sebuah kegiatan dimana angkot berhenti di pinggir jalan untuk menunggu penumpang dengan tujuan memenuhi tempat duduk angkotnya. Nah, yang jadi masalah adalah, angkot itu suka banget ngetem lamaaaaaaaaaa banget di pinggir jalan. Waktu gua SMA, gua pernah naik angkot ke arah rumah. Kebetulan emang ga ada penumpang lain di angkot itu selain gua, terus begitu kami di Giant, Cimanggis, dia berhenti di pinggir jalan, lalu ngetem.
                .... 1 menit.... oke gua masih sabar, satu orang mulai masuk.
                ..... 5 menit.... Yaa gapapa lah, belum ada tambahan orang lagi
                ...... 10 menit.... Coy panas coy, tapi satu orang mulai masuk lagi.
                ...... 15 menit..... Beuh udah ga kuat gua!
                Sampe setengah jam angkotnya ngetem! Dan lebih parahnya lagi, supir angkotnya malah keluar minum es di warung deket situ, ninggalin penumpangnya yang kepanasan kayak dipanggang. HIH! Ga mikirin penumpangnya! Dikira penumpang itu sembako kali ya ditinggalin gitu aja. Akhirnya gua turun, tinggalin tuh angkot, terus naik ojek dah. Kosong lagi dah tuh angkot.

      2.  Lama

                Nah, udah gitu, selain ngetemnya berkali-kali, angkot itu juga lama coy.
“Kok bisa!? Katanya angkotnya membludak kayak cendol?”
                Jadi gini, angkot itu, meskipun jumlahnya banyak, tapi jalannya lambaaat banget, apalagi kalo dia lagi di perumahan. Setelah berabad-abad ngetem, akhirnya angkot jalan tuh. Tapi dibilang jalan juga engga soalnya dia cuma ‘main-mainin’ kopling! Dan buat yang ga tahu, kopling itu mesin dalam mobil manual yang bikin mobil jadi jalan (sebelum akhirnya digas). Kecepatan kopling itu ya ga ada, karena cuma memicu mobil buat jalan. Jadi leleet banget. Bahkan lebih cepet jalan kaki kayaknya. Nah, begitu angkot udah di jalan raya, barulah dia nge-gas sekenceng-kencengnya kayak di kejar setan.
                Selain itu, angkot juga suka lama karena ngobrol sama supir lain.
                Maksudnya?
                Ya itu, ngobrol sama supir lain dari arah yang berlawanan.
                Begini, misalnya ada angkot lagi jalan nih, terus ada angkot yang sama (partner dia) dari arah berlawanan. Terus dia menyapa temennya (sesama supir angkot) yang dari arah berlawanan itu. Kalo cuma nyapa sih selow lah ya. Masalahnya bukan cuma nyapa, terkadang mereka malah ngobrol. Mulai dari “ada razia ga disana?” sampe “eh semalem Chelsea menang ga?”. Bayangin aja, di tengah jalan ngobrol kayak gitu, gimana ga lama. Dan akhirnya mereka berdua jadi sumber kemacetan karena menghalangi mobil lain yang mau lewat. Cape deh!

            3. Panas

                Kalo ini menurut gua relatif. Angkot emang ga punya AC, kalaupun punya, itu cuma buat hiasan. Tapi kalo jalan, ada anginnya kok, soalnya ada jendela-jendelanya. Ya menurut gua orang bakal merasa kepanasan kalo dia naik angkot di Jakarta siang-siang, terus macet, terus jendela angkotnya ketutupan orang berbadan lebar. Tapi kalo seandainya angkotnya jalan di daerah dingin kayak Bogor atau Puncak, gua rasa ga bakal panas-panas amat.
4
             4. Ga Bisa Menghitung

                Maksudnya!? Ya ga bisa perhitungan antara jumlah penumpang dengan kursi angkot yang dia miliki. Begini, pernah naik angkot yang udah super duper penuh, sampe dempet-dempetan, sampe lu aja mau bergerak aja ga bisa, tapi angkotnya masih ngetem dan teriak-teriak ke orang-orang  “Ayo neng! Kosong neng! Yang kiri geser yang kiri!”, padahal udah jelas ga bisa masuk. Nah itulah yang gua sebut dengan ‘ga bisa menghitung’. Udah tahu angkot udah penuh, sampe-sampe tuh mobil body-nya turun (karena banyaknya penumpang) masih aja dibilang “Kosong”. Kenapa bisa gitu ya? Kalo menurut gua sih, angkot kayak gitu karena ingin mendapat lebih banyak uang, jadi dia paksa-paksain masuk. Tapi kan tetep aja nyusahin kita 

         5. Sembarangan Nurunin Penumpang

                Ini juga jadi alasan kenapa teman-teman gua males naik angkot. Terkadang angkot yang ngetem, akan jalan juga meskipun tanpa penumpang. Hal ini dikarenakan karena sudah sejam, tapi penumpangnya daritadi ya cuma satu, ya akhirnya dia mau ga mau ya jalan. Terus kalau seandainya udah jalan 2-3 km tapi ga ada penumpang yang naik, maka dia bakal ngomong ke satu-satunya penumpang yang ada di situ kayak gini : “mbak/mas/pak/bu, turun di sini aja ya, saya mau muter balik”, habis itu kita diturunin di situ, terus dengan sigap angkotnya muter balik, habis itu pergi ke arah ‘pulang’. Angkot kayak gitu dengan harapan kalau seandainya dia jalan di arah sebaliknya, dia bakal dapet penumpang. Tapi yang kesusahan kita, diturunin gitu aja, masih mending kalau ada angkot berikutnya. Kalau ngga? Bye bye beibeh..

           6. Ugal-ugalan

                Yak! Bener banget! Angkot seneng banget yang namanya ngebut mendadak dan ngerem mendadak. Selain itu, angkot juga demen banget yang namanya nyalip sembarangan, bahkan suka ambil jalur dari arah yang berlawanan. Habis itu, gitu dia ambil jalur berlawanan, dia papasan sama mobil/motor dari arah berlawanan, mau gamau dia harus balik ke jalur dia kan. Ironisnya, jalur yang satu lagi ga bisa ngasih jalan (entah orang-orangnya males atau emang macet jadi ga bisa ngasih jalan), akhirnya angkotnya ngestuck lah di jalur orang. Habis itu dia klakson-klakson maksa supaya orang-orang kasih jalan. Lah yang salah siapa, yang ngomel siapa. Haduh kayak ga pernah sekolah aja. Eh, tapi emang rata-rata supir angkot tidak berpendidikan tinggi, makanya kayak gitu

         7. Horror

               Horror begimane? Ya horror angkotnya. Karena ada sebagian angkot yang mesinnya udah bobrok banget, sampe-sampe kalau jalan pun suka bunyi ‘krieeet’ kayak pintu kalo di buka. Bayangkan jika kamu naik angkot, terus tiap ada polisi tidur, ada bunyi ‘krieet’ dan suara kayak robot super tua yang disenggol anak kecil dikit aja hancur. Kan horror..


                Yah kira-kira begitulah alasan kenapa banyak  orang lebih milih naik kendaraan pribadi atau kendaraan umum lain (transjakarta, taxi (uber atau offline), ojek (online/offline) ketimbang angkot. Tapi bukan berarti semua supir angkot kayak gitu. Gua pernah nemu supir angkot yang nyetirnya bener, ga ugal-ugalan, bahkan dia ga mau ngetem dengan alasan “saya ga mau nyusahin orang lain mbak gara-gara saya ngetem. Entar kalo saya jalan juga orang-orang pasti mau naik angkot saya”, cuma ya masih sedikit orang yang punya kepribadian kayak gitu.
                Dan gua rasa pemerintah perlu mengadakan pelatihan khusus buat supir angkot deh. Supaya ga ugal-ugalan, ga nyusahin orang-orang di jalan. Karena kalo ngga, orang-orang bakal jauhin angkot, habis itu angkot bakal menghilang, dan pengangguran makin banyak. Kan kasihan.
                Selain itu, juragan-juragan angkotnya juga perlu memperhatikan mobil-mobil milik mereka, supaya ga bobrok kayak angkot di beberapa tempat. Jadi maksud gua perlu pemeriksaan rutin gitu setiap beberapa bulan sekali, atau setahun sekali deh. Jadi kalau ada yang rusak atau mulai error, bisa langsung diperbaiki, ga perlu nunggu rusak parah kayak angkot-angkot tua yang disitu. Jadi ga keluar duit banyak juga kan. Apalagi yang soal AC yang cuma jadi pajangan di mobil. Kalo itu diperbaiki, pasti bakal banyak penumpang yang mau naik.
                Tapi itu baru pendapat gua sih. mudah-mudahan angkot bakal berkembang terus, soalnya angkot tuh berguna banget buat orang yang tinggal di pelosok-pelosok. Dan gua rasa kalo seandainya angkot makin berkembang, pasti pemilik kendaraan pribadi langsung beralih ke angkot. Dan kalo gitu, akan mengurangi kendaraan di Jakarta, jadi mengurangi macet deh. Enak kan? Enak kaaaan?

12.11.2015

Shirleyuri

Hak Kebebasan Berkeyakinan dan Diskriminasi : Analisis Kasus Pembakaran Gereja di Aceh, Singkil

Kebebasan berkeyakinan adalah sebuah hak yang dimiliki setiap orang dalam berkeyakinan dan beragama terhadap Tuhan atau hal lain yang dia akui. Hak bebas berkeyakinan terdapat dalam UUD 1945 Pasal 28E Ayat (1) yang  menegaskan bahwa “setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya”. Hak kebebasan beragama juga dijamin dalam Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Dua ayat ini menunjukkan bahwa memiliki agama atau keyakinan merupakan suatu hak yang dimiliki oleh seluruh warga negara Indonesia.
            Diskriminasi adalah sebuah tindakan dimana golongan mayoritas memarginalkan kaum minoritas karena adanya hate crime yang muncul di dalam kelompok tersebut. Diskriminasi berasal dari adanya sifat stereotype dan prasangka. Prasangka adalah sebuah tindakan antipati yang didasarkan atas kurangnya sifat menggeneralisasikan yang fleksibel terhadap suatu golongan di dalam masyarakat[1]. Diskriminasi dapat berupa pengucilan, maupun pengusiran terhadap golongan tertentu. Hal ini jika diberlanjutkan, dapat mengurangi toleransi antara masyarakat. Ketika masyarakat rasis terhadap sesuatu yang mengabaikan diskriminasi, maka akan menghasilkan dikap prasangka terhadap golongan lain[2]
            Kasus pembakaran gereja di Singkil, Aceh, merupakan contoh salah satu minimnya hak bebas berkeyakinan dan tingginya diskriminasi di kalangan masyarakat. Kasus pembakaran gereja HKI (Huria Kristen Indonesia) dimulai pada 13 Oktober 2015, terjadi setelah munculnya protes dari warga bahwa gereja tersebut tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Warga yang tidak sabar akhirnya beramai-ramai ke gererja pada pukul 11.00. Hal ini menimbulkan dua korban tewas dan empat orang luka-luka. Hal ini melanggar kebebasan berkeyakinan, terlihat dari ketidaksukaan warga atas didirikannya rumah peribadatan tersebut.
            Di sini juga terlihat bahwa tingkat tolneransi beragama antar masyarakat juga masih kurang, dalam survey opini Publik mengenai Toleransi beragama yang dilakukan oleh LSI pada tahun 2006, mereka tidak keberatan apabila ada kaum minoritas tinggal di sekitar mereka, tetapi tidak setuju apabila dibangun rumah peribadatan kaum minoritas di sekitar mereka. Sangat sedikit yang memiliki pandanganyang benar-benar positif atau percaya terhadap orang lain. Rendahnya Social Trust ini merupakan hal yang sangat buruk dalam kerjasama antar warga dan menumbuhkan solidaritas sosial.[3]
            Selain itu, negara secara tidak langsung juga melanggar hak berkeyakinan yang dimiliki oleh warga Kristen di Singkil. Karena pada Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945 menyatakan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Namun kenyataannya masih saja ada kericuhan seperti ini. Dari merdeka.com disebutkan bahwa gereja dibakar karena tidak memiliki izin, dan warga yang tidak sabar akhirnya memutuskan untuk menghakimi dengan cara mereka sendiri.[4] Di sisi lain, pemerintah menyatakan bahwa bukan hanya gereja saja yang tidak memiliki izin, tetapi masjid, vihara, klenteng dan tempat peribadatan lainnya juga banyak yang tidak memiliki IMB dalam pendiriannya.[5] Apa perbedaannya? Perbedaannya terletak pada rumah ibadat itu sendiri. Ketika Masjid didirikan, meskipun ilegal karena tidak mempunyai IMB, namun karena masyarakat tidak bereaksi, maka hal itu akan dibiarkan. Sedangkan ketika gereja atau rumah ibadat lain dibangun tanpa adanya IMB, karena masyarakat merasa tidak setuju, maka akan timbul rasa ingin menggusur rumah peribadatan tersebut.
            Melihat hal ini, pemerintah dan aparat penegak hukum harus tegas dalam menggalakan IMB. Jika memang tidak memiliki IMB, ada baiknya harus digusur. Tapi ini harus berlaku untuk semua rumah peribadatan dan fasilitas umum lainnya, bukan mengistimewakan satu golongan karena mereka mayoritas. Polisi dan pemerintah harus tegas dalam hal ini, dan masyarkat juga harus sadar dan memiliki moral bahwa semua golongan memiliki hak ibadat yang sama, dan bahwa semua masalah dapat dilakukan secara konsensus. Artinya, tidak boleh ada sekelompok masyarakat di luar polisi yang bertindak sewenang-wenang kepada warga negara lain. Karena kekerasan atas nama agama di Indonesia tidak akan pernah berhenti selama polisi tidak pernah tegas. 



Sumber :
Baumeister, Roy F., dkk,2010, Pyschology : The State of the Science,Oxford University    Press,
Fiske, Susan T., 2000, Stereotyping, prejudice, and discrimination at the seam between the             centuries:evolution, culture, mind, and brain, European Journal of Social     Psycholo`y Eur[ J[ Soc[ Psychol[ 29\ 188Ð211"1999#, hal.300
Lembaga Survei Indonesia,2006, Survei Opini Publik : Toleransi Sosial Masyarakat           Indonesia,             http://www.lsi.or.id/file_download/20




[1]  Roy F. Baumeister dkk,2010, Pyschology : The State of the Science,Oxford University Press,hal. 342
[2] Susan T. FIske, 2000, Stereotyping, prejudice, and discrimination at the seam between the centuries: evolution, culture, mind, and brain, European Journal of Social Psycholo`y Eur[ J[ Soc[ Psychol[ 29\ 188Ð211 "1999#, hal.300
[3] Lembaga Survei Indonesia,2006, Survei Opini Publik : Toleransi Sosial Masyarakat Indonesia, http://www.lsi.or.id/file_download/20,Hal.12, diakses pada 24 Oktober 2015 jam 13:12
[4] Aryo Putrapto Saptohutomo, 2015,‘Kericuhan Aceh Singkil dipicu Desakan Pembongkaran Gereja’, http://www.merdeka.com/peristiwa/kerusuhan-di-aceh-singkil-dipicu-desakan-pembongkaran-gereja.html, diakses pada 24 Oktober 2015, jam 15:01
[5] Tri Wahyuni,2015, ‘Ahok : Banyak Rumah Ibadah di Jakarta tidak punya IMB’, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150724101312-20-67939/ahok-banyak-rumah-ibadah-di-jakarta-tak-punya-imb/, diakses pada 24 Oktober 2015, jam 15:05

Efektivitas Nostalgia dalam Lagu-Lagu Masa Kini

Beberapa tahun lalu, tepatnya di tahun 2017, sebuah lagu berjudul ‘Plastic Love’ diunggah di Youtube. ‘ Plastic Love ’ yang dinyanyikan o...