Showing posts with label kehidupan sehari-hari. Show all posts
Showing posts with label kehidupan sehari-hari. Show all posts

Pengalaman Interview di Hokben (PT. Eka Bogainti)

HokBen new logo.png
Hai! Jadi seperti yang diketahui semua orang, gua tahun ini fix jadi pengangguran hore!

*lempar kembang*

Ehem.

Oke, jadi seperti yang dilakukan orang-orang yang baru lulus, gua mulai melakukan ritual yang bernama nyari kerjaan. Gua datang ke Job Fairnya UI, langsung follow berbagai akun-akun loker (lowongan kerja) di IG, setiap hari rajin buka JobStreet dan UrbanHired buat nyari lowongan, follow LINE Jobs di LINE, terus mulai bagus-bagusin profile di LinkedIn biar kesannya gua anak yang berprestasi, berdedikasi dan berpotensi jadi pegawai salah satu dari mereka *asek*. Dan biar ga keliatan nganggur-nganggur amat, gua memilih jadi intern di Ruangguru. Lumayan, dapet duit, dapet pengalaman juga. Nanti gua ceritain pengalaman gua di Ruangguru setelah gua kelar magang ya. Sabar guys.

Tapi ada hal yang bikin gua sulit dapet kerjaan :
1. Gua ga tertarik kerjaan di bidang kriminologi (padahal gua lulusan kriminologi).
2. Gua ga mau kerja

HAH? GA MAU KERJA?

Ya, sebenernya gua lebih tertarik bikin usaha sendiri daripada kerja di kantor. Tapi kan belum ada modal ea, jadi gua untuk sementara berbisnis sebagai dropshipper Viva dulu. Nanti klo dapet kerjaan tetap, gua bakal nabung buat kumpulin modal sama travel. Yuk yang mau beli Viva Cosmetics atau mau jadi dropshipper juga, bisa langsung komen di post ini yaa. *maaf jadi promosi* *nama juga usaha*

Oke, jadi sebenernya gua lebih tertarik di bidang Creative dan entertainment. Selain itu, gua juga suka hal-hal yang berbau sosial media. Itu sebabnya gua nyarinya tuh lowongan kayak social media officer, social media specialist, atau yang macam performer (piano) dan guru piano. Iya, gua nekat. Tapi itu yang gua mau, daripada kerja di bidang kriminologi tapi lu ngerjainnya ga enjoy. Yah, itu opini gua doang sih.

Nah, gua udah apply banyak tuh. Kayaknya 120 lamaran gua sebarin di Jobstreet, gua lupa kalo di Glints, LinkedIn, Urban Hire, dll. Dan Akhirnya ada beberapa kantor yang nelpon gua buat interview. Salah satu yang nelpon gua buat interview adalah PT. Eka Bogainti. Buat yang ga tahu, PT. Eka Bogainti adalah perusahaan yang bergerak di bidang F&B (Food and Beverage), salah satu merknya yang terkenal adalah Hokben. Yes, gua melamar juga di Hokben, gengs.

"Cil, lu ngapain di Hokben? Jadi Waitress?"

Engga atuh :(

Gua disitu melamar jadi creative and social media marketing. Jadi nanti tuh tugas gua ya membuat konten buat promosiin Hokben di socmed, kira-kira itu nantinya tugas gua. Pas gua lapor ke ortu kalo gua mau interview di sana, tadinya emak gua rada gimana gitu. Soalnya doi takut tempatnya bakal jauh, either di Jakarta Utara atau Karawang (buset). Eh, gitu gua bilang kantornya di Ciracas, emak gua langsung super seneng. Ya iyalah, cuma setengah jam pake Gojek cuy. Ga usah kalang kabut sampe bangun subuh-subuh. Mantull.

Oke, jadi akhirnya hari jumat kemarin (19 Okt 2018) gua datang ke kantornya di daerah Ciracas, deket Pasar Ciracas gitu lokasinya. Gua kira, gua bakal interview di restorannya gitu, eh rupanya engga gengs. Gua interview di ruang kantornya mereka. Yah, kecewa lah dunia persilatan.

Dan proses interviewnya umum sih. Ditanyain latar belakang pendidikan, terus sekarang kegiatannya apa aja. Kenapa mau bekerja di Hokben, dan sebagainya. Setelah kurang lebih 45 menit tanya jawab, akhirnya HR nya nanya "kamu hari Rabu bisa ikut psikotest ga?", dan gua langsung mengiyakan dong, demi kerjaan apa sih yang ngga.

Terus pas hari Rabu, tepatnya 24 Oktober, gua dateng ke kantornya lagi. Kali ini ruangannya beda, dan gua satu ruangan sama calon-calon lain yang nge-apply ke sini. Gua kira yang lolos administrasi cuma dikit kan, eh rupanya lumayan. Ada belasan. Gua langsung minder (Iya, anaknya suka gampang insecure). Terus pas tanda tangan absen, gua iseng ngintip, nyari tahu siapa aja sih calon pelamar yang apply di sosial media. Soalnya, pas gua tanya, rupanya yang ikut psikotes itu ga cuma yang ke Sosial media. Ada yang jadi kasir, ada yang di akuntansi, dll. Jadi digabung gitu. Akhirnya mulai lah psikotesnya. Test dimulai dengan test perilaku. Jadi tugas kita tuh mencentrang kalimat yang sesuai dengan diri kita. Setelah itu, test gambar. Tugas kita adalah mencocokan gambar berdasarkan soal yang ada. Habis itu ada test kraeplin, atau orang-orang bilang 'test koran'. Kita dikasih kertas selebar kertas koran, kertas itu isinya kerumunan angka. Tugas kita itu ya menjumlah angka-angka tersebut dengan cepat dan tepat. Pegel pegel dah. Kayaknya kelar test itu, tangan kanan gua udah berotot. Dan yang terakhir adalah kita disuruh gambar manusia dan gambar pohon. Kira-kira itu sih isi test hari itu. Psikotes dimulai dari jam setengah 9 pagi, dan selesai pukul 11 siang, tapi ada juga yang selesai lebih dari jam 11 siang, karena mereka interview dulu (sebelumnya mereka belum diinterview kayak gua).

Hari Senin, tanggal 29 Oktober, gua ditelepon hokben pas lagi magang di kantor. Gua udah deg-degan aja kan. Eh, si HR nya telepon buat kasih tahu bahwa gua Recommended dong buat ke tahap selanjutnya. Terus ditawarin buat bertemu HR Manager hari kamis tgl 1 Nov. Ya gua langsung iyain, of course.

Huft, semoga aja berjalan lancar.

Akhirnya 29 Oktober gua datang ke kantor. Gua udah pede aja tuh, gua pikir tinggal gua sendirian kandidat yang tersisa. Sadis ga tuh? Eh rupanya gua salah.

Pas gua dateng, tiba-tiba muncul temen gua pas jaman kuliah, tapi beda jurusan. sebut saja namanya V. Doi komunikasi, gua kriminologi. Pas dia liat gua, dia langsung sapa gua

Ket:
V (temen gua) G (gua)

V : "Eh elu shir. Lu ngelamar disini juga?"
G : "Yoi. Anjay barengan dah kita."
V : "wkwk. Lu ngelamar bidang apa?"
G : "Social media. Lu?"
V : "Wih, sama."

MATI GUA.

Yah, lawan gua temen gua yang anak kom pula, makin kecil dah ini kesempatan gua. Tapi gua berusaha positif thinking. Bapak gua aja yang teknik pangan bisa kerja di Asuransi, berarti gua juga bisa dong kerja beda jurusan.

Ga lama kemudian, muncul juga anak cewek lain. Gua inget nih, cewek ini satu ruangan sama gua pas psikotest. Gua dan si V pun kenalan sama dia. Ternyata dia anak UI juga, namanya B, jurusan sastra Belanda angkatan 2013. Makin jiper lah gua, yaawla gini amat yak mau nyari kerja.

Kami pun satu persatu diinterview sama usernya. Yang pertama diinterview si V, terus gua, yang terakhir si B. Pas gua diinterview, ditanya-tanyalah gua perihal yang umum-umum kayak "Jurusan apa?", "Apa hubungannya jurusan kamu sama socmed marketing?", "kenapa pilih hokben?", dsb.

Nah, ditengah-tengah interview, mereka minta instagram gua, mau liat kali ya instagram gua kayak gimana. Terus mereka pun minta portfolio gua. Karena portfolio gua ada yang video, gua pun tunjukkin lewat HP. Pas mereka lagi liat portfolio lewat hp gua, tiba-tiba ada yang telepon dong. Wah kacau nih, bisa-bisanya ada yang telepon gua pas lagi interview, udah gitu pas hp gua dipegang User pula. Eh, Usernya malah suruh gua angkat teleponnya, Akhirnya gua keluar ruangan dulu buat ngangkat telelpon. Rupanya itu telepon dari Yamaha Music perihal pendaftaran gua sebagai guru musik Yamaha. Mereka telepon buat bikin janji ketemu sama gua. Akhirnya selesai telepon, gua pun melanjutkan interview gua.

Selesai interview, gua pun nunggu jawaban dari Hokben.

1 minggu, ga ada kabar.

2 minggu, ga ada kabar.

3 minggu, masih ga ada kabar.

Yah, kayaknya sih gua ga dapet kerjaan itu ya kalo udah 3 minggu ga ada respon. Gua rasa si V itu yang dapet, soalnya si B waktu itu update status kalo dia sekarang kerja di sebuah agensi iklan gitu. Sementara si V ga update apapun (atau sengaja ga update?) di Instagramnya. Kecewa sih, tapi lumayan, bisa nambah pengalaman baru.

YOSH! SEMANGAT CARI KERJA BUAT BIKIN KERJAAN!


Cibubur
Shirleyuri, 2018






Gerbong Khusus Laki-laki: Sexisme atau Kesetaraan Gender?


Sekitar satu bulan yang lalu, saya dan pacar saya naik krl menuju JIE EXPO, Kemayoran, untuk datang ke C3 AFA (Anime Festival Asia), sebuah event pop culture Jepang. Di tengah perjalanan, kami ngobrol tentang gerbong perempuan yang isinya jauh lebih ‘ganas’ daripada gerbong campur. Kami juga ngobrol tentang kasus baru-baru ini, di mana ada dua perempuan yang berantem gara-gara rebutan tempat duduk di gerbong perempuan[1]. Lalu di tengah pembicaraan kami, pacar saya tiba-tiba bilang “harusnya cowok tuh juga punya gerbong sendiri. Emangnya cewek doang yang butuh gerbong khusus?”

Well, pacar saya bukanlah orang pertama yang bilang hal itu. Di internet, saya sudah melihat banyak komen-komen para netizen laki-laki yang bilang bahwa seharusnya laki-laki juga disediakan gerbong khusus di dalam krl. Namun, ketika laki-laki menulis itu di internet, yang terjadi adalah tanggapan negatif dari netizen (umumnya perempuan) yang bilang bahwa si laki-laki tersebut sexist.
Sexist? Benarkah? Itu yang dipikiran saya saat membaca komen-komen itu.

Sebelum kita bisa menentukan apakah pemikiran laki-laki yang ingin punya gerbong khusus itu termasuk sexism atau ngga, mungkin lebih baik kita mencari tahu dulu pengertian sexist dan sexism. Kebanyakan orang-orang menganggap bahwa sexism adalah bentuk diskriminasi laki-laki terhadap perempuan, atau suatu paham bahwa laki-laki lebih eksklusif daripada perempuan. Padahal, berdasarkan UNICEF, sexism adalah sebuah bentuk diskriminasi yang muncul atas dasar perbedaan gender[2]. Paham seksisme muncul dari adanya stereotype-stereotype tentang peran gender, dan memiliki anggapan bahwa gender tertentu lebih baik daripada gender lainnya[3]. Sedangkan sexist adalah julukan untuk tindakan-tindakan yang mendiskriminasikan suatu gender. Jadi sexism tidak hanya membicarakan bentuk diskriminasi terhadap perempuan, tapi laki-laki juga bisa jadi korban sexism. Pernah dengar istilah ‘laki-laki tidak boleh nangis’? Ya, itu adalah salah satu bentuk seksime terhadap laki-laki dalam bentuk perkataan. Laki-laki juga sering menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual, dan yang menyedihkan, polisi dan pemerintah cenderung tidak memperhatikan, karena adanya pikiran bahwa ‘laki-laki tidak mungkin jadi korban, perempuan lah yang selalu menjadi korban’[4].

Kembali lagi ke awal. Apakah keinginan laki-laki terkait adanya ‘gerbong pria’ itu suatu tindakan sexist? Menurut saya tidak. Menurut saya, hal itu adalah bentuk tuntutan kesetaraan hak agar memiliki hak yang sama dengan perempuan. Karena kenyataannya, saat ini perempuan lebih banyak mendapat hak dibandingkan laki-laki. Contohnya, ya di dalam suasana krl. Saat perempuan masuk ke gerbong campur, adalah suatu rejeki ketika seorang pria memberi kursinya. Tapi ketika tidak ada yang memberi kursi, seringkali si perempuan marah-marah atau parahnya lagi, menuduh para lelaki di situ tidak sopan. Bukankah, mereka sudah menerima didiskriminasi PT KAI, tak disediakan gerbong khusus laki-laki?  Sementara perempuan, ketika sudah duduk di gerbong laki-laki, cenderung tidak mau memberikan kursinya kepada laki-laki yang membutuhkan (orang tua, difabel, dsb), dengan berkata bahwa 'saya perempuan, saya lemah'. Ingat ga postingan di instagram yang bercerita soal hal ini? . Secara tidak langsung, sebenarnya itu adalah bentuk sexism terhadap laki-laki loh.  

Di sini saya bukannya lebih memihak laki-laki daripada perempuan loh. Saya di sini juga seseorang yang mendukung feminisime. Cuma mau ajak berpikir, sepertinya feminisme saat ini sudah terlalu membelok, dan bukannya menuntut kesetaraan gender, malah meminta agar perempuan dieksklusifkan. Kalau begini terus, nanti akhir-akhirnya perempuan malah cenderung mendominasi daripada laki-laki. Lebih parah lagi, kalau begini terus, posisi laki-laki akan menjadi sama seperti posisi perempuan pada zaman dulu, terpinggirkan, terabaikan, termarginalisasi. Kan jadi jauh dari tujuan utama kesetaraan gender.

Ya, mungkin kita, sebagai perempuan,atau sebagai masyarakat umum, harus memperbaiki mind set kita tentang perempuan harus lebih dilindungi daripada laki-laki dan harus memilki hak yang spesial. Mungkin sekarang kita harus memiliki mind set bahwa perempuan dan laki memiliki hak yang sama, sehingga kita tidak hanya menuntut emansipasi dalam hak, tetapi juga kewajiban. Karena saat seorang perempuan meminta hak emansipasi seperti laki-laki, saat itulah ada kewajiban lain yang melekat padanya.

P.S: Kalau ada orang PT. KAI ngeliat tulisan ini, mungkin bisa menggunakan tulisan saya sebagai pertimbangan untuk membuat gerbong khusus laki-laki? Hahahaha




[1] TEMPO.2017.’ Video Wanita Berkelahi di Kereta Jadi Viral, Begini Suasana KRL‘. Available from https://metro.tempo.co/read/news/2017/05/17/083875955/video-wanita-berkelahi-di-kereta-jadi-viral-begini-suasana-krl  [11 September 2017]
[2] UNICEF.(n.d).’It’s About Us : Gender and Sexism’. Available from http://www.unicef.ie/wp-content/themes/iboot-child/micro-sites/itsaboutus/cards/unicef-itsaboutus-gender-sexism.pdf  [11 September 2017]
[3] Doob, Christopher B. 2013. Social Inequality and Social Stratification in US Society. Upper Saddle River, NJ: Pearson Education, Inc.
[4] THE REAL SEXIM.(n.d).’government Sponsored Sexism’. Available from http://www.realsexism.com/  [12 September 2017]

Media Sosial sebagai Pedang Bermata Dua dalam Kasus Bunuh Diri


Pada 25 Juli 2017, masyarakat, terutama netizen (masyarakat yang aktif di dunia maya), dikejutkan dengan video dua orang perempuan yang melompat dari lantai 6 di sebuah apartemen di Bandung. Video ini sangat viral pada hari itu, karena di dalam video itu ditampilkan secara terang-terangan bagaimana proses dari perempuan itu berdiri di pinggir, hingga akhirnya perempuan tersebut jatuh ke tanah dan tewas. Di dalam video tersebut juga ditampilkan reaksi masyarakat yang melihat dan berteriak karena kejadian tersebut. Setelah diidentifikasi, polisi menyatakan bahwa dua orang perempuan yang tewas tersebut adalah kakak beradik berinisial EP (34) dan ESP (28), dan berdasarkan penjelasan anggota keluarga korban, kedua perempuan itu memang sudah mengalami depresi berkepanjangan[1].
cuplikan video bunuh diri dua orang perempun kakak beradik di Bandung 25 Juli yang lalu

Pada bulan maret 2017 lalu, kita juga dikejutkan dengan video Live di Facebook yang menampilkan seorang pria yang berusaha gantung diri. Di dalam videonya, pria berinisial PI (35) ini menceritakan keluh kesahnya, dan bagaimana hatinya hancur saat ditinggalkan istri yang sangat dia cintai. Karena ditinggal istri, dia jadi putus asa dan memutuskan untuk melakukan gantung diri secara live di Facebook[2].  
PI, gantung diri secara live di facebook, setelah sebelumnya dia curhat tentang kesedihannya ditinggal isteri

Bulan April lalu, masyarakat Georgia, Amerika Serikat, digegerkan dengan kasus seorang anak remaja berinisial MH (13). MH bunuh diri dengan cara menembak kepalanya dengan pistol, dan menampilkan tindakannya secara live di Instagram. Ibunya yang bernama Shaniqua Stephens mengatakan jika sebelum peristiwa mengerikan tersebut berlangsung, putranya membuang sampah ke dapur. Tak lama kemudian dia masuk ke dalam kamarnya dan Shaniqua mendengar suara tembakan. Kedua orangtuanya tidak tahu kenapa MH memutuskan untuk bunuh diri[3].
MH (13), menembak kepalanya sendiri dan live melalui instagram
EP, ESP, MH, dan PI adalah sebagian kecil dari masyarakat yang terekspos secara besar-besaran karena kasus bunuh diri yang mereka lakukan. Mereka juga sebagian kecil dari masyarakat dunia maya yang kasusnya cukup viral di media sosial. Beberapa tahun belakangan, bunuh diri memang menjadi salah satu aksi yang paling banyak digunakan masyarakat dalam menghadapi kondisinya. Bahkan menurut WHO, pada tahun 2020, sekitar 1,53 juta orang akan meninggal karena bunuh diri[4]. Fenomena bunuh diri ini semakin tinggi dengan adanya media sosial. Simon J Howard dan Wendy Surtees, dalam jurnal mereka yang meninjau tentang kasus bunuh diri di media sosial di Tyneside Selatan, Inggris, menyatakan bahwa kebanyakan korban bunuh diri di media sosial adalah masyarakat berusia di bawah 45 tahun, dan memiliki masalah kejiwaan dan umumnya adalah pegawai kantoran[5].

Saya tidak membicarakan mengapa seseorang bunuh diri, apa faktor penyebab secara eksternal maupun internal. Sesuai dengan judul dari tulisan ini. Saya lebih membicarakan bagaimana fenomena bunuh diri di media sosial memberikan dampak pada masyarakat, baik negatif maupun positif.

Media sosial, sebagai tempat berinteraksi terbesar di dunia maya, dapat menjadi pedang bermata dua di dalam fenomena bunuh diri. Dengan kata lain, adanya fenomena bunuh diri di media sosial menjadi hal yang sangat buruk, namun bisa juga menjadi hal yang sangat positif.

Dari segi yang buruk, media sosial dapat ‘mempermudah’ seseorang untuk melakukan tindakan bunuh diri. Ketika seseorang bunuh diri di media sosial, maka dengan cepat tindakannya akan tersebar ke seluruh penjuru internet. Tindakan ini biasa disebut sebagai behavioural contagion. 

Behavioural contagion atau ‘perilaku menular’, adalah suatu interaksi sosial, di mana tindakan seseorang dijadikan panutan oleh orang lain, karena tindakannya diekspos oleh media massa. Tindakan ini dapat bersifat baik, maupun buruk[6]. Berkaitan dengan behavioural contagion, orang yang berniat bunuh diri pada akhirnya juga ikut meniru proses kematian yang dipilih orang sebelumnya. Kondisi ini sangat berdampak bagi mereka yang rentan, terutama kelompok yang berusia di bawah 25 tahun[7]. Jika hal ini dibiarkan, maka akan dapat membahayakan saudara-saudara kita yang masih tergolong remaja dan masihmencari jatidirinya.

Meski begitu, sebenarnya kasus ini bermanfaat juga bagi netizen. Bagi sebagian besar masyarakat, mereka akan menyadari bahwa bunuh diri dan keinginan untuk bunuh diri bukanlah isapan jempol belaka. Masyarakat akan mulai aware dengan kondisi sekitarnya, terutama ketika di sekitarnya ada seseorang yang memiliki ciri-ciri sudah putus asa dan berniat bunuh diri. Munculnya komunitas-komunitas yang berusaha mencegah terjadinya bunuh diri seperti ‘Into the Light’ adalah salah satu hasil dari menyebarnya kasus bunuh diri di media sosial.

Terlepas dari baik atau tidaknya efek media sosial dalam bunuh diri, sejatinya bunuh diri adalah hal yang sangat buruk. Kepekaan dan kepedulian terhadap masyarakat perlu ditingkatkan lebih lagi terhadap orang-orang di sekitar kita. Karena kepedulian dari satu orang saja, akan memberi pengaruh bagi pilihan mereka J

Salam,

Shirleyuri
           





[1] Putra Prima Perdana.2017.’ 2 Wanita yang Bunuh Diri Melompat dari Apartemen Gateway Kakak Beradik’. Available from http://regional.kompas.com/read/2017/07/24/20144341/2-wanita-yang-bunuh-diri-melompat-dari-apartemen-gateway-kakak-beradik  [30 July 2017]
[2] Kanavino Ahmad Rizqo.2017.’ Ini Curhat Lengkap Pria yang Gantung Diri Sambil Live di Facebook’. Available from https://news.detik.com/berita/d-3450002/ini-curhat-lengkap-pria-yang-gantung-diri-sambil-live-di-facebook  [30 July 2017]
[3] Yulia Yulee.2017. ‘Siarkan Bunuh Diri di Instagram Live, Remaja Ini Gegerkan Medsos’. Available from http://citizen6.liputan6.com/read/2920845/siarkan-bunuh-diri-di-instagram-live-remaja-ini-gegerkan-medsos  [31 July 2017]
[4] Yari Gvion, Alan Apter. ‘Suicide and Suicidal Behavior’.  Public Health Reviews Vol. 34, No. 2; Rennes, July 1, 2012. page 2
[5] Simon J Howard and Wendy Surtees. ‘A case series review of suicides associated with social media use in South Tyneside, England’. Journal of the Royal Society of Medicine Open;0(0) 1–2DOI: 10.1177/2054270415619322. page 2
[6] Stephenson, G. M., & Fielding, G. T. (1971). An experimental study of the contagion of leaving behavior in small gatherings. Journal of Social Psychology, 84(1), 81-91.
[7] Cox, Georgina R.; Robinson, Jo; Williamson, Michelle; Lockley, Anne; Cheung, Yee Tak Derek; Pirkis, Jane (2012-01-01). "Suicide Clusters in Young People". Crisis. 33 (4): 208–214. ISSN 0227-5910. doi:10.1027/0227-5910/a000144.

Privasi Identitas di dalam Broadcasting Messages

         
     Kemarin (24 July 2017), di Group LINE yang berisi teman-teman kampus saya, salah seorang teman saya membroadcast berita tentang angkot yang meledak di daerah Pluit, Jakarta Utara, dan merenggut nyawa si sopir. Di dalam broadcast itu, tertulis kronologis seperti waktu kejadian, tempat, bagaimana kejadian sebelum hingga sesudah ledakan, dan juga video dan foto ledakan angkot tersebut. Bahkan, dalam broadcastnya, dipaparkan juga nama, alamat, dan nomor telepon saksi dari kejadian tersebut. Teman saya menjelaskan bahwa berita tersebut dia dapat dari broadcast grup daerah rumahnya (dia tidak menjelaskan apakah dia dapat dari WhatsApp, BlackBerry Messenger, LINE, atau media sosial lain).

contoh postingan broadcast yang . Di dalamnya dijelaskan tempat/ tanggal lahir (pink), agama (orange), pekeerjaan (biru), alama dan no. hp (hitam)

                Sejujurnya, saya tidak nyaman dengan broadcast teman saya tersebut. Bukan, bukan karena foto atau video yang berbau darah dan menyeramkan. Kalau hal itu sih saya tidak masalah. Bukan juga karena takut itu hoax atau bukan. Karena saya telah mencari kebenaran beritanya, dan untungnya berita tersebut benar, dan diposting oleh salah satu media yang legal (http://news.metrotvnews.com/peristiwa/GNl6mDPk-sopir-dan-angkot-terbakar-di-pluit). Hal yang membuat saya risih dari broadcast tersebut adalah dipaparkannya data diri saksi secara gamblang, tanpa adanya sensor sedikitpun. Bayangkan saja, sudah namanya disebar, tanggal lahir, pekerjaan, alamat, dan nomor teleponnya pun ikut disebar. Menurut saya, hal ini tidak usah dilakukan. Bahkan sebenarnya tidak boleh dilakukan. Ada beberapa alasan kenapa data diri saksi tidak boleh disebarkan sembarangan.

1.       Mengganggu Privasi Seseorang

Ini saya bermain dengan logika ya, jadi mohon maaf kalau terkesan common sense. Jadi begini, ketika ada seseorang yang disebutkan dalam suatu berita orang-orang akan penasaran dengan nama yang disebutkan di dalam berita tersebut. Entah mereka akan googling, atau mencari nama di media-media sosial. Nah, dengan adanya ‘kemudahan’ berupa alamat dan nomor telepon, bukan tidak mungkin orang lain akan menelepon atau mendatangi tempat tinggal dia secara tiba-tiba. Dia akan terganggu dengan telepon yang tiba-tiba muncul saat dia sedang sibuk, atau kedatangan tamu yang tidak diundang saat dia sedang menikmati waktu bersama keluarga. Masih mending kalau kedatangan atau telepon orang itu untuk menanyakan soal kasus kecelakaan itu, kalau seandainya cuma telepon iseng? Atau telepon terror? Atau lebih buruknya lagi, kalau rumahnya ternyata dijadikan sasaran untuk mencuri? Gimana?

2.       Melanggar UU

Dalam hal ini, Undang-Undang yang dilanggar adalah Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika republik Indonesia nomor 20 Tahun 2016 tentang perlindungan Data Pribadi Dalam Sistem Elektronik. Di dalam pasal 26, dikatakan bahwa setiap orang berhak atas kerahasiaan identitas pribadinya. Selain itu, Pasal 26 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juga menyebutkan bahwa:
1)    Penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan Orang yang bersangkutan.
2)    Setiap Orang yang dilanggar haknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan berdasarkan Undang-Undang ini
                Jadi, dari peraturan ini, dapat dipahami bahwa sebenarnya penyebaran identitas secara sembarangan seperti broadcast teman saya itu adalah suatu pelanggaran Undang-Undang ITE. Dimana orang yang identitasnya disebar berhak untuk melapor atau menuntut, terutama apabila penyebaran identitas tersebut merugikan dia.

3.       Melanggar HAM

                 Well, sebenarnya Hak atas Privasi tidak disebutkan secara langsung di dalam UUD 1945, tapi dalam Pasal 28G ayat (1) UUD RI 1945 sebagai berikut:
“Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan  hak asasi”.
Pasal 28 G ini berkaitan dengan Article 12 UDHR (Universal Declaration of Human Rights) Dalam terjemahan tersebut, kata “privacy” diterjemahkan sebagai “urusan pribadi/masalah pribadi” sebagaimana yang tertera dalam Pasal 28G UUD RI 1945 sebagai berikut:

Article 12 UDHR :

                 “No one shall be subjected to arbitrary interference with his privacy, family, home or correspondence, nor to attacks upon his honour and reputation. Everyone has the right to the protection of the law against such interference or attacks”.

Terjemahan dalam Putusan MK:

           “Tidak seorang pun boleh diganggu urusan pribadinya, keluarganya, rumah tangganya, atau hubungan surat-menyuratnya, dengan sewenang-wenang, juga tidak diperkenankan melakukan pelanggaran atas kehormatannya dan nama baiknya. Setiap orang berhak mendapat perlindungan hukum terhadap gangguan-gangguan atau pelanggaran seperti ini”.

          Nah, hal ini berkaitan dengan poin 1 tadi, adanya penyebaran identitas seseorang secara sembarangan melalui media sosial, akan mengganggu privasi seseorang. Ketika privasi seseorang terganggu, maka secara hukum, hak asasinya pun telah dilanggar. Dia berhak menuntut hak privasinya, jika dia memang merasa terganggu.

                Jadi, buat orang-orang yang suka menyebar broadcast berupa berita dan sebagainya. Saya mohon, baca dulu, dan jangan sampai identitas orang lain, terutama alamat dan nomor telepon, tersebar begitu saja. Terlepas dari apakah alamat dan nomor telepon itu palsu atau tidak, setidaknya kita sudah menjauhi orang dari pelanggaran privasi, meskipun kita tidak kenal orang itu (atau bahkan orang itu fiktif).

                Yuk, kita hormati privasi orang.

Jembatan Aborsi : Julukan baru Jembatan Penyeberangan di Stasiun Universitas, Depok

HAI!
                Dua bulan terakhir UI diberikan sebuah fasilitas baru. Ya, sekarang stasiun UI memiliki jembatan penyebrangan orang (JPO) antara stasiun dan Barel (belakang rel). Akhirnya setelah sekian lama mesti lewatin rel secara langsung dan mesti becek-becekan (kalo hujan), kami akhirnya bisa nyebrangin rel dengan tenang. YEAY!

Jembatan Penyeberangan Stasiun UI-Barel
                Iya, awalnya gua pikir juga kayak gitu.

“Wah, sekarang mau ke barel tinggal lewatin jembatan. Keren...”

“Wah, asik nih ga perlu lagi yang namanya kena lumpur-lumpur jijay”

“Wih bisa nyebrang santai, ga usah takut ketabrak kereta”

“Ah, sedap lah.”

                Itu pikiran gua pas awal-awal masuk semester 4, which is ya saat ini. Karena ya gua adalah salah satu orang yang bakal menggunakan jembatan itu terus sampai libur kuliah nanti. Gak perlu lagi cape-cape lagi menghindar dari becek, atau gak perlu lagi tuh yang namanya gelap-gelapan in case pulang di atas jam setengah 8 dari kampus. Gua yakin bahwa JPO ini bakal ngasih banyak manfaat.

Ternyata enggak juga.

           Pertama kali gua naik, ternyata anak tangganya tinggi banget. Kayak, dari satu anak tangga ke anak tangga lain aja tuh udah super ngos-ngosan. Baru sampai atas aja udah super capek. Belum turunnya. Pas gua mau turun, dari atas kelihatan kalau ujung anak tangganya tuh ga simetris, agak bergerigi dan miring. Entah kenapa pertama kali gua coba turun dari situ, kepala gua agak pusing. Padahal gua udah makan sebelumnya. Pemikiran gua yang tadinya JPO ini bermanfaat langsung berubah 180 derajat.
Pas naik jembatan Stasiun UI.
Yha maaf gambarnya blur
Pas turun tangga jembatan
Begitu sampai di atas, ada dua satpam berdiri di pojok, supaya tidak terjadi apa-apa katanya
Pemandangan dari atas jembatan. Sisi kiri kanannya dijeruji.
Dari sini kelihatan stasiun UI dan kegiatan-kegiatannya 
                Tadinya gua pikir gua doang yang berpikiran kayak gitu. Mungkin aja tenaga gua yang ga cukup, soalnya gua bukan orang yang suka berolahraga. Ternyata temen gua yang suka olahraga dan rajin fitness pun ngos-ngosan pas naik tangga ini. Begitu juga dengan temen-temen gua yang ngekos di sekitar barel. Banyak temen-temen gua yang akhirnya sengaja ga sering balik ke kostannya gara-gara jembatan itu. Misalnya, hari ini lu kelas dari jam 8-10.30 sama jam 14-16.30. Kan masih ada waktu 3,5 jam tuh. Biasanya temen gua bakal balik ke kostan, terus istirahat di kamarnya 2 jam, habis itu balik lagi ke kampus, kan lumayan yak. Nah, karena jembatan ini, akhirnya temen gua sengaja stay di kampus (ngerjain tugas, ngaso, dll) sampai jam set 5 itu. Katanya sih buat ngurangin frekuensi melewati jembatan itu. Temen gua yang lain yang ngekost di Tamel (Taman Melati, lokasinya di pinggir jalan Margonda) juga sama. Dia ga mau capek-capek keringatan sampe kampus gara-gara itu jembatan. Bahkan dia sampai memesan gr*bcar loh tiap mau ke kampus, which is menurut gua sangat membuang-buang uang. Di saat lu bisa ke kampus jalan kaki tanpa ongkos sepeserpun, lu malah rela bayar gr*bcar yang gua rasa akan memakan paling gak 25rb.

                “Ya iyalah, males gua daripada lewatin jembatan aborsi itu”

                Itu kata dia pas gua tanya kenapa dia mau melakukan ‘pemborosan’ macam itu.


                Ah iya, berkat dia juga, gua dan teman-teman lainnya punya julukan buat  JPO kesayangan gua itu.

                ‘Jembatan Aborsi’

                WHAT!?

                Iya, lu ga salah baca. Akhirnya sampe sekarang gua nyebut jembatan itu sebagai ‘jembatan aborsi’, karena ya capeknya itu. Gua bisa ngebayangin kalau ada ibu-ibu hamil naik jembatan itu, pas udah sampe atas, anaknya udah langsung balita saking ekstremnya.
            Tadinya itu nama cuma dipake sama gua dan anak-anak kriminologi lainnya. Ga tau kenapa, lama-lama anak-anak FISIP lain juga ikut-ikutan nyebut jembatan itu sebagai ‘jembatan aborsi’. Bahkan belakangan ini kita menyebut jembatan aborsi seolah-olah nama itu memang nama sebenarnya. Nih contoh pembicaraanya:

                “Pulang cil? Naik apa?”

                “Naik G*JEK bang”

                “Ooh, tunggu di halte FISIP ya?”

         “Engga. Gua suruh di kober, biar murah.”

                “Buset, lewatin jembatan aborsi dong?”

                “Iya :”)”

                Padahal yang ngobrol sama gua itu bukanlah anak kriminologi, tapi senior dari jurusan lain di FISIP. Tapi dia nyebut itu jembatan seolah-olah itu adalah hal yang umum.
                Selain bikin capek, konstruksinya juga agak horror sih. Tau ga sih, beberapa bulan yang lalu, pas itu jembatan baru dibentuk, jembatan tersebut ambruk? Padahal masih konstruksi loh. Kan serem banget, untuk ga ada korban jiwa. Tapi katanya sih ada salah satu pekerja yang ketimpa, cuma masih kabar burung. Ga tau deh dari burungnya siapa.
                Setelah jembatan itu jadi, gua ngeliat ada beberapa kayu penopang yang belom dilepas. Nah loh, kayu penopang di tangga kan biasanya dipakai ketika tangga tersebut masih berupa semen basah dan digunakan untuk menjaga agar bentuk anak tangga dapat terstruktur dengan baik sebelum dipakai. Kalau tangganya udah jadi dan udah kokoh, harusnya kayunya juga dilepas. Tapi masih ada beberapa plank kayu yang belum dilepas sama-sekali. Jangan-jangan kalau lepas, jembatannya bakal ambruk lagi. AAAAA HOROR SEKALI!! :”(
Plank Kayu yang masih menempel di salah satu sisi jembatan Stasiun UI
                Hmm, kayaknya jembatan aborsi ini masih bisa dibilang ‘bermanfaat’ karena hal-hal tadi. Yah, gua harap itu cuma pemikiran parno gua, dan kalaupun memang hal itu beneran, gua harap segera diperbaiki. Amin.

Selamat menyeberang jembatan aborsi para pejuang! ;)
Cibubur

20 Maret 2016




"Kembaliannya permen aja, ya"

     
       Bulan Desember lalu, gua dan ade gua habis pelayanan di gereja. Terus karena haus dan waktu itu panas banget, gua dan adek gua akhirnya pergi ke sebuah minimarket di deket gereja gua. Beli apa ya, es krim sama minuman kalo ga salah. Terus pas bayar, kembaliannya Rp.10,800, tapi bukannya kembaliin sesuai dengan jumlah yang tertera, malah ngasih satu lembar 10ribu, 1 keping 500, 1 keping 100 sisanya permen rasa buah, dan gua cuma ‘ehm.... ya... oke’ sambil keluar dari minimarket.

kembalian gua Rp.10,800, tapi malah dikasih 
permen buat gantiin Rp.200 nya

                Sambil makanin eskrim, ga tau kenapa tiba-tiba kepikiran soal beginian. Kejadian ini udah lama dan sering banget terjadi loh. Rasanya dari gua umur 3 tahun, peristiwa ‘kembalian permen’ itu udah sering terjadi (atau jangan-jangan udah ada dari sebelum gua lahir?) Peristiwa ini juga ga terjadi sama gua doang, tapi juga hampir semua orang di Indonesia. Sampe-sampe beberapa netizen bikin meme dan komik singkat tentang beginian.

sumber : 1cak.com/815666

                Menurut gua, ‘kembalian permen’ itu salah satu peristiwa unik yang ada di Indonesia. Gua belum pernah lihat kasus yang kayak beginian pas gua main ke Singapore, terus gua cari-cari juga belom ada berita luar negeri atau meme luar negeri yang nampilin masalah beginian, entah emang ga ada atau gua belum nemu, atau ada tapi sengaja disembunyiin biar ga malu-maluin negara mereka. Gua sendiri juga penasaran, apa sih sejarahnya sehingga bikin beberapa minimarket memakai prinsip ‘kalau kembaliannya 200an, pake aja permen’? Bukan cuma kembalian 200 atau seratus yang bakal ‘dapet’ permen, tapi juga yang kembaliannya memiliki penjumlahan 200 atau seratus. Contohnya gua, kemarin kembaliannya ada nominal 800, maka mereka bakal ngasih 500, dan sisanya permen 3 buah.  Mungkin karena mereka ga punya uang receh, terus akhirnya mereka kasih permen yang harganya sama sebagai pengganti uang. Anehnya, pas kita beli barang (misalnya harga baranya Rp.12.300) dan kita bayar dengan 3 buah permen (pengganti Rp.300), mereka ga mau. Kan ga adil jadinya. Kalo gini gimana Equality bisa dijunjung tinggi *jengjeng* *ngelantur*.

Sumber : http://www.pulsk.com/55439/Hahahaha----kembalian-pake-permen-bayar-juga-pake-permen.html

                BTW, hal ini sebenernya bisa kita hindari loh. Kita bisa nolak kalau-kalau seandainya kasirnya ngasih kembalian dengan permen. Karena pada dasarnya mereka memberikan permen itu tanpa ada penawaran, dengan kata lain, tergolong dalam pemaksaan. Kalo pemaksaan itu merugikan kita, ya kita punya hak buat menolaknya dong.  Kecuali kalo seandainya kalian biasa aja dan berpsrinsip ‘ah gapapa cuma 100 200an ini kok’. Terus, minimarket-minimarket yang masih kasih kembalian pake permen, gua rasa kalian perlu hati-hati nih. Soalnya ada peraturan dari Bank Indonesia bahwa bagi penjual yang masih memberikan kembalian tidak berupa uang, maka akan didenda hingga Rp.20 juta atau penjara kurang lebih 1 tahun, kecuali ada perubahan dari Bank Indonesia mengenai perubahan sistem pembayaran. Jadi buat temen-temen yang ga suka sama kembalian permen dari minimarket kesayangan, laporin aja ke BI, nanti mereka yang urus. Paling gak hal ini dilakukan agar penjual dan pembeli sama-sama ga dirugikan. Ya gak?

Shirley Tiurina
24 Januari 2016
20:42
Sumber :

Angkot oh Angkot

                Halo! Selasa kemarin habis ke kampus dianter mama, terus nemu angkot yang super duper nyebelin bikin pengen gua lindes tapi ga mungkin. Nah, gara-gara itu tiba-tiba kepikiran buat ngebahas kendaraan umum yang udah kayak cendol di Indonesia : ANGKOT
                Well, udah pada tahu lah ya angkot itu apa. Angkot itu kendaraan umum di Indonesia (terutama jabodetabek) yang berbentuk mobil atau mini bus. Biasa beroperasi di jalan raya dari pagi sampai malam. Angkot di setiap tempat memilki warna yang berbeda, dan jurusan yang berbeda-beda pula. Tujuannya ya agar masyarakat yang tidak mempunyai kendaraan bisa tetap ke tempat tujuannya dengan cepat dan aman.
                Tujuannya udah mulai banget tuh. Selain menolong masyarakat yang ga punya kendaaraan, angkot SEHARUSNYA juga bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, apalagi yang jumlahnya udah membludak kayak cendol.  TAPIIIIIIIIII kenyataannya tidak demikian. Justru sekarang kendaraan pribadi makin banyak. Satu orang satu motor, atau lebih parahnya lagi, satu orang satu mobil. Oh the irony...
                Kenapa sih orang – orang sekarang lebih milih naik kendaraan pribadi ketimbang angkot? Nah, berdasarkan observasi dan pertanyaan yang gua lontarkan ke teman-teman gua yang kemana-mana pake kendaraan pribadi, akhirnya ditemukan beberapa alasan yang menurut gua mewakili semuanya :
  1.  Tukang Ngetem

                That’s the 1st (and) most reason that my friends told when I asked them “kenapa ga naik angkot aja?”. Di Jakarta (terutama Depok, tempat tinggal gua), angkot selalu di pinggir jalan. Buat yang gatau ngetem itu apa, ngetem adalah sebuah kegiatan dimana angkot berhenti di pinggir jalan untuk menunggu penumpang dengan tujuan memenuhi tempat duduk angkotnya. Nah, yang jadi masalah adalah, angkot itu suka banget ngetem lamaaaaaaaaaa banget di pinggir jalan. Waktu gua SMA, gua pernah naik angkot ke arah rumah. Kebetulan emang ga ada penumpang lain di angkot itu selain gua, terus begitu kami di Giant, Cimanggis, dia berhenti di pinggir jalan, lalu ngetem.
                .... 1 menit.... oke gua masih sabar, satu orang mulai masuk.
                ..... 5 menit.... Yaa gapapa lah, belum ada tambahan orang lagi
                ...... 10 menit.... Coy panas coy, tapi satu orang mulai masuk lagi.
                ...... 15 menit..... Beuh udah ga kuat gua!
                Sampe setengah jam angkotnya ngetem! Dan lebih parahnya lagi, supir angkotnya malah keluar minum es di warung deket situ, ninggalin penumpangnya yang kepanasan kayak dipanggang. HIH! Ga mikirin penumpangnya! Dikira penumpang itu sembako kali ya ditinggalin gitu aja. Akhirnya gua turun, tinggalin tuh angkot, terus naik ojek dah. Kosong lagi dah tuh angkot.

      2.  Lama

                Nah, udah gitu, selain ngetemnya berkali-kali, angkot itu juga lama coy.
“Kok bisa!? Katanya angkotnya membludak kayak cendol?”
                Jadi gini, angkot itu, meskipun jumlahnya banyak, tapi jalannya lambaaat banget, apalagi kalo dia lagi di perumahan. Setelah berabad-abad ngetem, akhirnya angkot jalan tuh. Tapi dibilang jalan juga engga soalnya dia cuma ‘main-mainin’ kopling! Dan buat yang ga tahu, kopling itu mesin dalam mobil manual yang bikin mobil jadi jalan (sebelum akhirnya digas). Kecepatan kopling itu ya ga ada, karena cuma memicu mobil buat jalan. Jadi leleet banget. Bahkan lebih cepet jalan kaki kayaknya. Nah, begitu angkot udah di jalan raya, barulah dia nge-gas sekenceng-kencengnya kayak di kejar setan.
                Selain itu, angkot juga suka lama karena ngobrol sama supir lain.
                Maksudnya?
                Ya itu, ngobrol sama supir lain dari arah yang berlawanan.
                Begini, misalnya ada angkot lagi jalan nih, terus ada angkot yang sama (partner dia) dari arah berlawanan. Terus dia menyapa temennya (sesama supir angkot) yang dari arah berlawanan itu. Kalo cuma nyapa sih selow lah ya. Masalahnya bukan cuma nyapa, terkadang mereka malah ngobrol. Mulai dari “ada razia ga disana?” sampe “eh semalem Chelsea menang ga?”. Bayangin aja, di tengah jalan ngobrol kayak gitu, gimana ga lama. Dan akhirnya mereka berdua jadi sumber kemacetan karena menghalangi mobil lain yang mau lewat. Cape deh!

            3. Panas

                Kalo ini menurut gua relatif. Angkot emang ga punya AC, kalaupun punya, itu cuma buat hiasan. Tapi kalo jalan, ada anginnya kok, soalnya ada jendela-jendelanya. Ya menurut gua orang bakal merasa kepanasan kalo dia naik angkot di Jakarta siang-siang, terus macet, terus jendela angkotnya ketutupan orang berbadan lebar. Tapi kalo seandainya angkotnya jalan di daerah dingin kayak Bogor atau Puncak, gua rasa ga bakal panas-panas amat.
4
             4. Ga Bisa Menghitung

                Maksudnya!? Ya ga bisa perhitungan antara jumlah penumpang dengan kursi angkot yang dia miliki. Begini, pernah naik angkot yang udah super duper penuh, sampe dempet-dempetan, sampe lu aja mau bergerak aja ga bisa, tapi angkotnya masih ngetem dan teriak-teriak ke orang-orang  “Ayo neng! Kosong neng! Yang kiri geser yang kiri!”, padahal udah jelas ga bisa masuk. Nah itulah yang gua sebut dengan ‘ga bisa menghitung’. Udah tahu angkot udah penuh, sampe-sampe tuh mobil body-nya turun (karena banyaknya penumpang) masih aja dibilang “Kosong”. Kenapa bisa gitu ya? Kalo menurut gua sih, angkot kayak gitu karena ingin mendapat lebih banyak uang, jadi dia paksa-paksain masuk. Tapi kan tetep aja nyusahin kita 

         5. Sembarangan Nurunin Penumpang

                Ini juga jadi alasan kenapa teman-teman gua males naik angkot. Terkadang angkot yang ngetem, akan jalan juga meskipun tanpa penumpang. Hal ini dikarenakan karena sudah sejam, tapi penumpangnya daritadi ya cuma satu, ya akhirnya dia mau ga mau ya jalan. Terus kalau seandainya udah jalan 2-3 km tapi ga ada penumpang yang naik, maka dia bakal ngomong ke satu-satunya penumpang yang ada di situ kayak gini : “mbak/mas/pak/bu, turun di sini aja ya, saya mau muter balik”, habis itu kita diturunin di situ, terus dengan sigap angkotnya muter balik, habis itu pergi ke arah ‘pulang’. Angkot kayak gitu dengan harapan kalau seandainya dia jalan di arah sebaliknya, dia bakal dapet penumpang. Tapi yang kesusahan kita, diturunin gitu aja, masih mending kalau ada angkot berikutnya. Kalau ngga? Bye bye beibeh..

           6. Ugal-ugalan

                Yak! Bener banget! Angkot seneng banget yang namanya ngebut mendadak dan ngerem mendadak. Selain itu, angkot juga demen banget yang namanya nyalip sembarangan, bahkan suka ambil jalur dari arah yang berlawanan. Habis itu, gitu dia ambil jalur berlawanan, dia papasan sama mobil/motor dari arah berlawanan, mau gamau dia harus balik ke jalur dia kan. Ironisnya, jalur yang satu lagi ga bisa ngasih jalan (entah orang-orangnya males atau emang macet jadi ga bisa ngasih jalan), akhirnya angkotnya ngestuck lah di jalur orang. Habis itu dia klakson-klakson maksa supaya orang-orang kasih jalan. Lah yang salah siapa, yang ngomel siapa. Haduh kayak ga pernah sekolah aja. Eh, tapi emang rata-rata supir angkot tidak berpendidikan tinggi, makanya kayak gitu

         7. Horror

               Horror begimane? Ya horror angkotnya. Karena ada sebagian angkot yang mesinnya udah bobrok banget, sampe-sampe kalau jalan pun suka bunyi ‘krieeet’ kayak pintu kalo di buka. Bayangkan jika kamu naik angkot, terus tiap ada polisi tidur, ada bunyi ‘krieet’ dan suara kayak robot super tua yang disenggol anak kecil dikit aja hancur. Kan horror..


                Yah kira-kira begitulah alasan kenapa banyak  orang lebih milih naik kendaraan pribadi atau kendaraan umum lain (transjakarta, taxi (uber atau offline), ojek (online/offline) ketimbang angkot. Tapi bukan berarti semua supir angkot kayak gitu. Gua pernah nemu supir angkot yang nyetirnya bener, ga ugal-ugalan, bahkan dia ga mau ngetem dengan alasan “saya ga mau nyusahin orang lain mbak gara-gara saya ngetem. Entar kalo saya jalan juga orang-orang pasti mau naik angkot saya”, cuma ya masih sedikit orang yang punya kepribadian kayak gitu.
                Dan gua rasa pemerintah perlu mengadakan pelatihan khusus buat supir angkot deh. Supaya ga ugal-ugalan, ga nyusahin orang-orang di jalan. Karena kalo ngga, orang-orang bakal jauhin angkot, habis itu angkot bakal menghilang, dan pengangguran makin banyak. Kan kasihan.
                Selain itu, juragan-juragan angkotnya juga perlu memperhatikan mobil-mobil milik mereka, supaya ga bobrok kayak angkot di beberapa tempat. Jadi maksud gua perlu pemeriksaan rutin gitu setiap beberapa bulan sekali, atau setahun sekali deh. Jadi kalau ada yang rusak atau mulai error, bisa langsung diperbaiki, ga perlu nunggu rusak parah kayak angkot-angkot tua yang disitu. Jadi ga keluar duit banyak juga kan. Apalagi yang soal AC yang cuma jadi pajangan di mobil. Kalo itu diperbaiki, pasti bakal banyak penumpang yang mau naik.
                Tapi itu baru pendapat gua sih. mudah-mudahan angkot bakal berkembang terus, soalnya angkot tuh berguna banget buat orang yang tinggal di pelosok-pelosok. Dan gua rasa kalo seandainya angkot makin berkembang, pasti pemilik kendaraan pribadi langsung beralih ke angkot. Dan kalo gitu, akan mengurangi kendaraan di Jakarta, jadi mengurangi macet deh. Enak kan? Enak kaaaan?

12.11.2015

Shirleyuri

Efektivitas Nostalgia dalam Lagu-Lagu Masa Kini

Beberapa tahun lalu, tepatnya di tahun 2017, sebuah lagu berjudul ‘Plastic Love’ diunggah di Youtube. ‘ Plastic Love ’ yang dinyanyikan o...